Bastian Tito dan Kisah 212

Posted on

Jakarta

“Kau telah lihat angka 212 pada kulit dada dan telapak tangan kananmu?” Wiro mengangguk.

“Berarti dalam dirimu sudah kulekatkan unsur-unsur keduniaan dan unsur ingat Tuhan. Agar kau tidak lupa bahwa kau hidup di dunia adalah untuk menolong sesama manusia. Juga agar kau tidak lupa bahwa kau mempunyai Tuhan yang harus dituruti segala perintah dan dijauhkan segala laranganNya. Kau mengerti?”

Itu lah percakapan terakhir antara Wiro Saksana dengan gurunya, Eyang Sinto Gendeng. Hari itu, seperti ditulis Bastian Tito dalam bukunya, Empat Berewok Dari Goa Sanggreng, Sinto Gendeng melepas Wiro setelah sekian lama berguru kepadanya.

Kepada Wiro, Sinto Gendeng juga memberinya bekal senjata, kapak maut Naga Geni 212. Maka, lahir lah Wiro Sableng, lebih dari 50 tahun silam. “Gurunya gendeng, muridnya sableng,” kata Eyang Sinto Gendeng.

Bastian Tito, pria berdarah Minang, itu merantau ke Jakarta sejak masih remaja. Untuk menopang hidupnya di tanah rantau, pria yang lahir pada 23 Agustus 1945 itu tak ingin membebani keluarganya di kampung. Ia memanfaatkan bakat menulisnya untuk menghasilkan uang.

“Sepertinya ayah sudah mulai menulis waktu masih usia sekolah dasar,” Vino G. Bastian, salah satu putranya, menuturkan kepada detikX di kantor rumah produksi Lifelike Pictures di kawasan Tanah Abang, Jakarta, beberapa waktu lalu.

BACA JUGA:   Hakim Merry Purba Bantah Terima Suap, KPK Pastikan Punya Bukti

“Ia pindah ke Jakarta untuk sekolah sekaligus cari uang,” lanjut Vino.

Ayahnya kala itu, kata Vino, tergila-gila pada novel detektif James Bond 007 yang ditulis Ian Fleming. “Ayah berangan-angan pengin punya satu karya, pahlawan Indonesia dengan kode angka tertentu,” kata Vino.

Cita-cita Bastian itu akhirnya terwujud pada 1967 ketika novel Wiro Sableng, seorang pendekar muda dengan senjata andalan Kapak Maut Naga Geni 212 masuk percetakan dengan judul Empat Brewok dari Goa Sanggreng.

“Sebelum Empat Brewok itu sebenarnya Wiro Sableng sudah ditulis. Tapi ceritanya tidak dimulai dari masa kecil.”

Vino masih ingat bagaimana ayahnya bergadang semalaman menulis Wiro Sableng. Suara balok huruf mesin tik menghantam pita karbon dan kertas mungkin bukan bunyi yang sedap di telinga pada malam hari.

Namun bagi Vino, suara itu ibarat dongeng pengantar tidur yang mengisi malam demi malam masa kecilnya dua dasawarsa silam. “Kalau kami sudah mau tidur malam, suara cetak cetok mesin tik yang khas pasti mulai berbunyi,” ujar Vino

BACA JUGA:   Kena Lagi! Billy Syahputra Diledek karena Hilda dan Kriss Hatta

Jam tidur malam Vino dan kakak-adiknya itu jadi semacam alarm pengingat bagi Bastian Tito untuk menuju ruang kerja. Memasukkan kertas ke gandaran mesin tik lalu menekan tombol demi tombol huruf pada papan tuts dengan kedua jari telunjuknya.

“Ayah itu ngetik pakai sebelas jari,” kata Vino sambil tertawa. “Tapi sangat cepat.” Dari jurus ‘sebelas jari’ Bastian Tito itu muncul karakter-karakter pendekar tangguh seperti Wiro Sableng, Mahesa Edan Pendekar Dari Liang Kubur, Mahesa Kelud Pendekar Pedang Sakti Keris Ular Emas, dan Boma Gendenk.

Untuk penerbitan novel-novel Wiro Sableng, pria kelahiran kota Padang itu mempercayakan kepada Usaha Penerbitan (UP) Lokajaya yang membuka kios toko buku di Kompleks Pasar Inpres Senen. UP Lokajaya pada masa itu masyhur di kalangan para penulis buku. Beberapa novelis seperti Motinggo Busye dan komikus Raden Ahmad Kosasih juga pernah menerbitkan buku-buku mereka di Lokajaya.

Cetakan pertama novel Wiro Sableng dibuat dengan format mungil seukuran buku cerita silat Asmaraman S. Kho Ping Hoo. Besarnya kira-kira seperempat kertas ukuran kuarto dengan kertas kuning yang tipis.

BACA JUGA:   Tersangka Suap PLTU Riau: Rp 700 Juta dari Panitia Munaslub Golkar

Baru setelah dicetak ulang, Wiro Sableng kemudian muncul dengan ukuran yang bertahan sampai judul terakhir, Jabang Bayi Dalam Guci. Hingga meninggal pada 2 Januari 2006, sudah 185 seri Wiro Sableng lahir dari tangan Bastian. Bersama S.H. Mintardja dan Kho Ping Hoo, Bastian adalah masternya cerita silat negeri ini.

Setelah berkali-kali ‘main’ di layar televisi, pada akhir Agustus nanti, film ‘superhero’ Wiro Sableng yang dibintangi oleh putra Bastian, Vino Bastian, Sherina Munaf, Yayan Ruhiyan, dan Marsha Timothy, mulai tayang di bioskop hari ini.



(sap/ken)

Photo Gallery

1

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20



Let’s block ads! (Why?)


Source: Bastian Tito dan Kisah 212