Dear Polisi-Hakim, Ini Dampak Korban Perkosaan yang Kalian Bui

Posted on




Muara Bulian
Polisi, jaksa dan hakim PN Muara Bulian, Jambi memenjarakan anak yang jadi korban perkosaan. Setelah mendapat respon negatif dari masyarakat, Pengadilan Tinggi (PT) Jambi melepaskan si anak. Lalu bagaimana kabar si anak itu kini?

“Sekarang si anak sudah mulai terbuka, ia tampak kembali ceria seperti anak remaja usia 15 tahun pada umumnya, kondisinya mulai stabil, keadaan trauma yang sebelumnya ia rasakan kini sudah sedikit mulai hilang,” ujar Kabid PPA, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) Provinsi Jambi, Hanan, saat berbicang-bincang dengan detikcom, Jumat (31/8/2018).

“Ia tampak bergembira setelah mengetahui perkara hukumnya dibebaskan. Di rumah aman yang kita titipkan buat si anak, sangat membantu keadaannya kini untuk melawan kisah pahit yang dialaminya itu,” cerita Hanan.

Si anak tidak layak hukum memang sengaja dititipkan di rumah aman. Setelah pihak Pemprov Jambi beserta tim kuasa hukumnya menjemput si anak dari tahanan penjara di Lapas khusus wanita Muara Bulian, Jambi.

BACA JUGA:   Mertua Meninggal, Shezy Idris Tak Datang Melayat

Selama di dalam penjara, kondisi anak sangat terpukul. Ia kerap menangis meratapi kesedihan dan keadaan yang begitu berat diusianya yang masih sangat dini.

“Sewaktu itu, ketika kita mencoba menjemputnya dari tahanan penjara, ia tampak sangat-sangat terpukul. Ia kerap menangis, sepertinya ia tidak begitu percaya jika apa yang dialaminya itu,” kata Psikolog Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan (P2TP2A) Jambi, Asih Novrini.

“Ia juga sedih ketika ibu kandungnya juga ikut dipenjara. Lalu si abang kandung yang telah memperkosanya juga berada di penjara yang sama dengannya. Sepertinya ia sangat terpukul kala itu,” sambung Asih.

Kala itu, kata Asih, sianak selalu merasa kecewa dengan apa yang dilakukan oleh abang kandungnya itu. Ia seakan tidak percaya jika ia dan keluarganya kini harus mengalami kisah hidup yang begitu pahit.

BACA JUGA:   Gerindra Libatkan Aktivis HAM di Timses Prabowo-Sandi

Ia juga malu untuk kembali bersekolah. Tidak hanya itu, si anak tidak layak hukum itu juga sangat tidak ingin kembali ke kampung halamanya, setelah apa yang terjadi dengan dirinya dan keluarganya itu.

Padahal, sebelumnya sianak sangat bercita-cita dapat menyelesaikan sekolahnya kala itu. Tetapi semua terhenti setelah kasus pemerkosaan serta aborsi itu terjadi.

“Selama si anak dititipkan di rumah aman ini, pendidikan si anak tetap kita berikan. Di mana kita selalu berikan keterampilan untuk menambah ilmu pengetahuannya, serta ilmu pendidikan khusus buat si anak agar tidak ketinggalan pendidikan sekolah dengan usia remajanya itu,” terang Asih.

Saat ini, si anak belum berani untuk bisa berhadapan langsung dengan banyak orang. Kondisi psikologisnya masih dalam pemulihan, setelah mengalami masa-masa buruk yang dialaminya.

Jangankan untuk bertemu banyak orang, untuk kembali ke kampung halamanya saja ia tidak berani, karena di sana ia merasa masa kelamnya itu terjadi.

BACA JUGA:   Happy Anniversary Dewi Persik dan Suami!

“Sepertinya kita belum dapat menyekolahkan si anak di tempat terbuka dan keramaian seperti itu. Karena yang kita takutkan kondisi psikologisnya kembali drop. Lalu sianak juga tidak ingin kembali kekampung tempat tinggalnya itu. jadi kita memahami itu, dan sementara kita menunggu sampai kondisi si anak benar-benar pulih. Dan ia sanggup untuk dapat kembali di kehidupannya yang baru,” ujarnya.

(asp/asp)


<!–

polong.create({
target: ‘thepolong’,
id: 57
})

–>

Let’s block ads! (Why?)


Source: Dear Polisi-Hakim, Ini Dampak Korban Perkosaan yang Kalian Bui