PKB Kaitkan #2019GantiPresiden dengan Suriah, Begini Faktanya

Posted on

Jakarta
Sekjen PKB yang juga Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-KH Ma’ruf Amin, Abdul Kadir Karding menyebut ‘ganti presiden’ pernah dipakai di Suriah. Pengamat Timur-Tengah Zuhairi Misrawi berharap Indonesia tak berujung krisis politik seperti di Suriah.

“Kita perlu belajar dari krisis politik di Suriah yang awalnya berdamai, tapi berujung konflik karena ada pihak-pihak yang bertujuan mendelegitimasi pemerintah yang sah,” kata Zuhairi saat berbincang dengan detikcom, Rabu (29/8/2018).

Zuhairi tak menampik fakta bahwa gerakan di Suriah diawali dengan gerakan di media sosial. Namun seiring perjalanan gerakan tersebut, kelompok ekstrem seperti Al-Qaeda dan ISIS menyusup.

“Ironisnya di Suriah, justru gerakan ganti presiden dimanfaatkan oleh ISIS dan al-Qaeda. Hal tersebut tidak boleh terjadi di negeri kita karena ada indikasi kelompok ekstrem yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan,” tutur Zuhairi.

Menurut Zuhairi, kampanye gerakan politik di Suriah mulanya menggunakan bahasa Arab. Kampanye mereka pun didukung oleh salah satu media berbahasa Arab.

Metamorfosis Gerakan Oposisi di Suriah

Pemerintahan Suriah di bawah kepemimpinan Presiden Bashar al-Assad menghadapi kelompok oposisi selama beberapa tahun belakangan. Namun gerakan oposisi di Suriah kemudian berkembang menjadi perang saudara.

Gelombang protes di Suriah yang menjadi sorotan dunia awalnya terjadi di Kota Deraa pada Maret 2011. Disebutkan bahwa ada ribuan demonstran anti Bashar al-Assad yang melakukan aksi selama beberapa hari di kota yang terletak di bagian selatan Suriah tersebut.

BACA JUGA:   'Tak Sabar Ingin Nonton Film Ahok'

Dikutip dari Aljazeera, Kamis (30/8/2018), yang melansir berita pada April 2011, disebutkan bahwa gerakan oposisi Suriah diawali dengan penangkapan 15 remaja. Para pemuda itu membuat grafiti bertuliskan ‘As-Shaab / Yoreed /Eskaat el nizam!’ atau dalam terjemahan bebas berarti ‘saya (kami) /menginginkan / ganti rezim!’. Kata-kata itu mereka tuliskan setelah melihat gerakan di Tunisia dan Mesir.

Pada 15 Maret 2011, ribuan orang berkumpul di Kota Deraa menyusul ajakan pada laman facebook yang berbunyi ‘Day of Dignity’. Ajakan itu digagas oleh aktivis bernama Fida el-Sayed. Dia pula yang membentuk laman Syrian Revolution Network atau ‘Jaringan Revolusi Suriah’ di facebook.

Foto: Logo Syrian Revolution Network

Demonstrasi di Deraa awalnya dilakukan secara damai. Meski tak mengusung satu nama tertentu sebagai wadah, namun mereka satu suara yakni untuk melawan rezim al-Assad.

Kelompok oposisi itu membawa bendera Suriah dengan warna berbeda. Warna merah pada bagian atas bendera Suriah diganti dengan hijau, kemudian bintang yang seharusnya hijau menjadi merah. Bendera ini pun terdapat dalam logo ‘Jaringan Revolusi Suriah’.

BACA JUGA:   Cerita Joshua Suherman dan Clairine Clay Akhirnya Jadian

Dihimpun dari BBC, Aljazeera, dan sumber lain, pemerintahan Bassar al-Assad kemudian merespons gerakan itu dengan cara militer. Satu per satu demonstran ditangkap, bahkan tak sedikit yang tewas tertembak.

Dikutip dari BBC yang melansir data PBB tahun 2015, sedikitnya ada 250.000 orang tewas dalam rangkaian peristiwa di Deraa. Untuk diketahui, jarak antara Deraa dengan ibukota Suriah, Damaskus, adalah 11 kilometer.

Pada Agustus 2011, kelompok oposisi kemudian membentuk Al-Jayš Al-Suri Al-Ḥurr atau sering disebut dalam bahasa Inggris sebagai Free Syrian Army (FSA). Kelompok ini dibentuk oleh tentara pembelot Suriah yang berbasis di Turki.

FSA dipimpin oleh Riad al-Asaad yang berpangkat kolonel di Angkatan Udara Suriah. Dia mendirikan FSA di Turki karena mendapat perlindungan dari otoritas setempat.

Rupanya FSA disebut tak memiliki banyak pengaruh di Suriah. Dari FSA kemudian lahir Supreme Military Council (SMC) pada Desember 2012. SMC awalnya dibentuk sebagai wadah alternatif bagi oposisi Suriah.

SMC bisa dibilang terorganisir karena memiliki perwakilan di wilayah-wilayah Suriah. SMC dipimpin oleh Brigjen Salim Idris.

Pada November 2013, 7 kelompok islamis membentuk Islamic Front (Harakat Ahrar al-Sham al-Islamiyya, Jaysh al-Islam, Suqour al-Sham, Liwa al-Tawhid, Liwa al-Haqq, Ansar al-Sham, dan Kurdish Islamic Front). Meski mengedepankan basis agama, kelompok oposisi ini tak berafiliasi dengan Al-Qaeda.

BACA JUGA:   Yusuf Mansur Temui Ma'ruf Amin Bahas Timses

Selain itu ada pula kelompok-kelompok independen lainnya di Suriah. Tak hanya itu, ada juga kelompok yang berhaluan lebih ekstrem yakni Al-Nusra dan Islamic State of Iraq and Sham (ISIS). Kelompok yang terakhir bisa dibilang yang paling terkenal dengan aksinya, bahkan di berbagai negara.

ISIS (terkadang disebut ISIL alias Islamic State of Iraq and Levant, ada pula yang hanya menyebut IS) dipimpin oleh Abu Bakar al-Baghdadi yang dibentuk pada April 2013. ISIS juga mengklaim sederet aksi terorisme yang terjadi di berbagai dunia, bahkan kelompok ini juga pernah mengklaim aksi napi terorisme di Mako Brimob beberapa bulan lalu.

(bag/tor)


<!–

polong.create({
target: ‘thepolong’,
id: 57
})

–>

Let’s block ads! (Why?)


Source: PKB Kaitkan #2019GantiPresiden dengan Suriah, Begini Faktanya