'Searching': Lebih dari Sekadar Mencari Anak yang Hilang

Posted on

Jakarta

Hubungan antara David Kim (John Cho, semakin lama semakin keren) dengan anaknya satu-satunya, Margot Kim (Michelle La) berjalan dengan baik-baik saja sepeninggal istrinya. Setidaknya itulah yang David pikirkan sebelum musibah terjadi kepadanya. Suatu malam, ketika David Kim sudah terlelap, ia mendapatkan tiga misscall dari putrinya. Keesokan harinya, ketika David Kim mencoba menghubungi anaknya, tidak ada jawaban sama sekali.

Pada awalnya David Kim tenang-tenang saja. Sampai akhirnya ia tersadar bahwa anak semata wayangnya menghilang. Ia mencoba segala macam cara, termasuk menghubungi teman-teman Margot untuk melacak keberadaan anaknya. Detektif Rosemary Vick (Debra Messing) mencoba membantu David Kim sebisanya. Menggunakan semua elektronik dan internet, David Kim mencoba melacak dimana anaknya berada. Di kedalaman internet, David Kim menemukan fakta bahwa anaknya tidak seperti yang ia pikir sebelumnya.

'Searching': Lebih dari Sekadar Mencari Anak yang HilangFoto: imdb.

‘Searching’ adalah film pertama sutradara muda (masih berumur 27 tahun) bernama Aneesh Chaganty. Ia tadinya adalah pembuat commercial untuk Google. Dalam sebuah surat yang ia post di Twitter dan Instagram, Chaganty mengaku bahwa film sangat penting untuknya. Masa kecilnya dihabiskan dengan menonton film. Menonton film dengan ibunya di bioskop, menonton film di rumah sendirian setelah mengerjakan tugas. Passion Chaganty terhadap film terlihat dari hasil akhir ‘Searching’.

BACA JUGA:   Cerita Pengemudi yang Mobilnya Diserobot Moge di Gerbang Tol

‘Searching’ adalah sebuah thriller suspense yang akan membuat Anda terikat dengan karakternya dari awal sampai akhir film. Film ini mempunyai kemampuan yang ekstra hebat untuk mengikat penonton dari sejak film dibuka sampai film ditutup. ‘Searching’ tidak berusaha untuk menyatakan diri dengan berteriak-teriak bahwa ia mempunyai ketegangan yang berlipat ganda. Tidak. Ia menjadi sebuah tontonan yang menegangkan karena ia menempatkan karakter utamanya di posisi yang sama dengan posisi penonton. Itulah kenapa fakta bahwa seluruh film ini diceritakan melalui layar laptop, komputer, ponsel, kamera CCTV dan cuplikan berita menjadi jenius.

‘Searching’, tidak seperti ‘Unfriended’, tidak menggunakan teknologi sebagai gimmick. Ia menggunakan hal tersebut sebagai alat untuk bercerita. Di zaman sekarang di mana manusia-manusianya terbelenggu dengan internet dan gadget, ‘Searching’ menjadi seperti sebuah cermin sekaligus kendaraan bagi penonton. Ia adalah cermin penonton terhadap habit yang selama ini kita lakukan. Dan ia menjadi kendaraan bagi penonton untuk berkenalan dengan karakter-karakternya sekaligus petunjuk-petunjuk yang bertebaran sepanjang film.

Ditulis oleh Chaganty dan Sev Ohanian, ‘Searching’ dengan cerdik menempatkan berbagai macam hal di layar. Ini seperti mencari jarum di tengah lautan jerami. Nyatanya, seperti halnya David Kim, kita akhirnya menjadi berinvestasi dengan kasus ini. Kita berusaha keras untuk menyelesaikan teka-teki ini. Kita menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi dengan Margot. Dan karena dari awal film Chaganty dan Ohanian menempatkan penonton di samping David Kim, setiap petunjuk baru dan kejutan-kejutan yang terjadi di film, sekecil apapun itu, menjadi sebuah loncatan yang berarti.

BACA JUGA:   Dorong Kampanye Damai, Kubu Jokowi-Ma'ruf: Jangan Saling Hujat
'Searching': Lebih dari Sekadar Mencari Anak yang HilangFoto: imdb.

Kita terkejut ketika tahu bahwa ternyata Margot adalah sosok yang pendiam. Kita melongo ketika tahu bahwa Margot masih berduka atas kematian ibunya. Kita ketakutan ketika kita tahu bahwa sepertinya Margot dalam keadaan bahaya.

Apa yang ada di ‘Searching’ sudah pernah kita lihat sebelumnya di film-film dengan genre serupa. Ini bukanlah hal yang baru. Tapi bagaimana Chaganty memproses semua itu dengan presisi yang pas dan ketulusan hati yang amat sangat adalah faktor-faktor yang membuat ‘Searching’ menjadi film musim panas paling memuaskan tahun ini.

John Cho dan Debra Messing bermain dengan sangat apik. Baik John Cho dan Debra Messing yang lekat dengan peran-peran komikalnya, menunjukkan sisi dramatis yang patut diacungi jempol. Terutama John Cho yang menunjukkan sisi kebapakan yang sungguh, sungguh realistis. Penonton sangat mudah simpati dengan karakternya karena ia berhasil menyalurkan mimpi buruk bapak mana pun dengan jenius disini.

BACA JUGA:   Nominasi Mentereng untuk 'Black Panther', Best Picture di Ajang Oscar
'Searching': Lebih dari Sekadar Mencari Anak yang HilangFoto: imdb.

Dengan editing yang prima (Nick Morrison, Will Merrick), ‘Searching’ berhasil tidak hanya menjadi sebuah tontonan yang menegangkan. Film yang bagus adalah film yang bisa memberikan banyak hal. ‘Searching’ memiliki itu semua. Ia bisa menjadi sebuah social commentary atas habit manusia zaman sekarang (seperti misalnya pura-pura berteman dengan seseorang supaya menjadi lebih beken di sosial media). Dan ia juga bisa menjadi sebuah drama yang menyentuh tentang rasa kehilangan dan kasih sayang.

Di akhir suratnya Chaganty mengatakan bahwa ia ingin membuat film seperti film-film yang ia tonton masa kecil. Ia ingin membuat film yang bisa membuat ia “bolos” dari kelas hanya untuk menonton sebuah hiburan. Dan dengan ‘Searching’, Chaganty berhasil melakukan misinya.

(doc/doc)

Photo Gallery

1

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20



Let’s block ads! (Why?)


Source: ‘Searching’: Lebih dari Sekadar Mencari Anak yang Hilang