Vino G. Bastian tentang Ayah dan Novel Wiro Sableng

Posted on

Jakarta

Novel Wiro Sableng seperti cerita silat pada umumnya, berkisah soal pertarungan antara pendekar yang baik dalam melawan kebatilan. Judul perdana Wiro Sableng, Empat Berewok Dari Goa Sanggreng, dibuka dengan kisah tentang seorang orok yang kedua orangtuanya dibunuh, lalu diselamatkan seorang guru silat sakti bernama Sinto Gendeng.

Bayi ini diberi nama Wiro Saksana, dilatih ilmu kanuragan di atas Gunung Gede dan setelah berusia 17 tahun baru turun gunung untuk menuntut balas.

Kisah-kisah Wiro Sableng yang ditulis Bastian Tito banyak mengambil latar belakang tempat di Pulau Jawa. Meski sang penulisnya sendiri lahir dan besar di Sumatera Barat. Rupanya dalam tubuh Bastian masih memiliki garis keturunan suku Jawa yang berasal dari ayahnya.

“Makanya ayah cukup tahu soal tradisi Jawa walaupun terbatas,” kata anak Bastian Tito, Vino G. Bastian. Vino merupakan pemeran Wiro Sableng di film layar lebar yang mulai tayang di bioskop hari ini.

Sadar akan keterbatasan itu Bastian rajin mencari referensi dari buku-buku untuk modal menulis. Beragam bacaan dilahap penggemar grup musik The Doors dan The Beatles itu mulai dari sejarah sampai cerita humor untuk memperkuat imajinasinya.

Tak hanya itu, untuk memperkuat detail-detail cerita yang ditulisnya, Bastian bekerja bak seorang peneliti dan wartawan.

Ia tak segan mendatangi daerah yang ingin dimasukkannya dalam sebuah cerita. Biasanya perjalanan untuk meriset itu dibalut dalam liburan panjang keluarga.

“Kami sering banget road trip naik mobil. Ayah menyetir sendiri. Anak-anaknya ya senang saja kalau diajak jalan-jalan ke berbagai kota,” ujar Vino.

“Bagi ayah, jalan-jalan itu sekaligus sebuah cara untuk meriset. Kamera dan buku catatannya pasti tak pernah lepas,” lanjutnya.

BACA JUGA:   Gempa 5,6 SR Guncang Lombok, Tak Berpotensi Tsunami

Daya ingin tahu Bastian yang besar membuatnya tak pernah melepaskan kesempatan untuk berburu ide dan bahan cerita. Prinsipnya, ide bisa datang kapan dan di mana saja.

Bahkan ketika disela-sela tugas dari perusahaan tempatnya bekerja ke luar negeri sekalipun, dia masih sempat mencari ide untuk buku Wiro. Dari perjalanannya ke China, lahir tiga seri Wiro Sableng, Lima Iblis dari Nanking, Pendekar Pedang Akhirat, dan Pendekar dari Gunung Naga.

Begitu juga saat Bastian bertugas ke Jepang. Perjalanan tugas ke negeri Sakura pun menghasilkan tiga judul kisah Wiro Sableng; Pendekar dari Gunung Fuji, Ninja Merah, dan Sepasang Manusia Bonsai.

“Kalau pergi ke sana (China dan Jepang) khusus untuk riset saya rasa tidak. Waktu itu tiket ke luar negeri mahal sekali. Ayah pasti memperhitungkan biaya, apalagi dia juga punya tanggungan keluarga,” kata Vino.

Ketekunan Bastian dalam hal riset tak lantas menumpulkan daya imajinasinya. Ratusan karakter baik kawan maupun lawan Wiro Sableng muncul dengan nama-nama unik dari 185 judul novel Wiro Sableng yang sempat tercetak.

Belum lagi proses pemberian nama juru-jurus pukulan seperti Kunyuk melempar buah, Orang gila mengebut lalat, pukulan sakti Benteng topan melanda samudera, ilmu Membelah bumi menyedot arwah, dan senjata milik Wiro Sableng serta tokoh-tokoh lainnya.

Sadar akan kesulitan yang bakal menimpanya untuk menghapal dan mengingat sebegitu banyaknya nama yang tercipta Bastian membuat katalog khusus. Pernak-pernik tiap-tiap karakter ditulis dengan tangan dalam selembar kertas lepas kemudian disatukan dalam sebuah map.

BACA JUGA:   PKS Tanggapi PSI Soal Nama Koalisi: Yang Penting Laku dan Menang!

“Saya sering melihat kalau dia lagi menulis terus lupa nama jurusnya, kamusnya itu dia buka lagi,” kata Vino.

Bastian tak cuma menulis novel Wiro Sableng seperti yang banyak dikenal orang. Saat masih duduk di bangku kuliah, pria yang menurut Vino gemar berpenampilan dendi dan rapi dengan celana model cutbray dipadu dengan sepatu bot mengkilap itu pernah menjadi wartawan di sebuah majalah hiburan bernama Vista. Bastian juga pernah mengisi rubrik khusus di harian Pos Kota.

“Setelah lulus kuliah ayah memilih kerja kantoran dan bahkan sempat mengambil gelar MBA, Master of Business Administration,” ujar Vino.

Saat memutuskan kerja kantoran Bastian harus beraktivitas di dua dunia berbeda. Konsekuensinya, ia harus disiplin dalam membagi waktu. Begitu juga dengan membagi perhatian kepada empat orang anaknya. Namun untuk Bastian, keluarga tetap nomor satu. Tak pernah waktu liburnya di akhir pekan dipakai untuk menulis novel.

“Pada hari kerja, pagi-pagi ayah antar anak-anaknya sekolah. Hari libur selalu untuk kami,”kata Vino.

“Ayah bertemu novelnya kalau kami sudah tidur saja. Saya masih sempat lihat dalam sebulan ayah bisa menghasilkan lebih dari satu judul sampai akhirnya satu judul bisa berbulan-bulan karena faktor usia,” lanjut Vino.

Berbicara soal novel Wiro Sableng juga tak bisa dipisahkan dari Lokajaya yang setia menerbitkan buku Wiro Sableng sampai judul pamungkas, Jabang Bayi Dalam Guci.

Pemilik Lokajaya, Hartawan, menuturkan Bastian punya kebiasaan menyambangi kediamannya untuk diskusi terutama menjelang naskah novel Wiro Sableng selesai.

“Pulang kantor mampir ke rumah. Biasanya kami ngobrol duatiga jam,” kata Hartawan kepada detikX.

BACA JUGA:   Jokowi: Ingin Rasanya Buka Asian Games dan Terbang Naik Motor Lagi

Beragam topik yang mereka bahas mulai dari penyelesaian sampai rencana gambar sampul depan. Lazimnya, kata Hartawan, sampul dulu yang dipesan ke pelukis sebelum buku masuk percetakan.

“Lukisan di sampul depan saya yang arahkan pelukisnya termasuk gambar sosok Wiro seperti apa raut wajah dan perawakannya,” ujarnya.

Selain sebagai penerbit, Hartawan juga merangkap penyunting naskah bagi novel Wiro Sableng. Naskah yang diberikan Bastian dicek kembali sebelum masuk percetakan. Hubungan Bastian dengan dia, menurut Hartawan, tak sekedar penulis dan penerbit tapi sudah seperti sahabat, bak keluarga. Makanya Bastian terus setia menerbitkan buku-bukunya di Lokajaya.

Lukisan sampul untuk judul ke-186 dengan judul Jenazah Simpanan sebenarnya telah selesai diorder Hartawan pada awal Januari 2006. Bahkan sudah diserahkan kepada percetakan. Tapi tiba-tiba ia menerima kabar Bastian Tito meninggal dunia.

“Akhirnya kami batalkan pembuatan sampulnya, karena memang naskahnya belum selesai,” katanya.

Hartawan pun menolak ketika ada permintaan melanjutkan proses penerbitan novel Wiro Sableng ke-186 tersebut. Baginya novel Wiro Sableng telah selesai saat Bastian Tito tiada.



(sap/ken)

Photo Gallery

1

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20



Let’s block ads! (Why?)


Source: Vino G. Bastian tentang Ayah dan Novel Wiro Sableng