Mengaku Nabi, Pria Ini Jual Tiket ke Surga Seharga Rp2 Juta

Dalam konteks keindonesiaan, ketika ada seorang yang mengaku nabi, ada pesan tidak konsisten dengan pesan nabi terdahulu. Oleh karena itu, kata Agus, nabi palsu itu diragukan dan mendapat penolakan.

“Begitupun kesesuaian praktik-praktik keagamaan yang diajarkan para nabi haruslah sesuai dengan nilai-nilai luhur ilahiah,” ucap dia.

Bentuk atau wujud kenabian itu beragam dan berjenjang. Tetapi, kata Agus, substansinya satu dan sama.

Bahkan, menurut Agus, dalam tiap tradisi agama muncul bentuk kenabian yang berbeda baik istilah maupun konsepnya. Kemunculan nabi itu disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakatnya.

“Apa yang dibutuhkan di tiap masa dan komunitas sangat mungkin berlainan dalam hal yang menjadi problem dan perhatian utamanya,” katanya

Hasil dari penelitian Agus itu berkesimpulan singkat. Dia mengatakan, selama tidak ada yang menjunjung nabi palsu melebihi batas kemanusiaannya, maka tidak akan menjadi masalah.

“Tetapi manakala muncul individu-individu yang diagung-agungkan dan dipatuhi melebihi kepatuhan dan ketundukan pada Yang Ilahi maka yang muncul adalah sebuah problema besar,” ucap dia. (dream.co.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *