Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) melalui Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) bukan sekadar ujian, melainkan potret kesehatan sistem pendidikan kita. Bagi guru dan siswa Kurikulum Merdeka, kunci utama adalah memahami bahwa prinsip soal AKM—yang fokus pada penalaran, konteks kehidupan nyata, dan analisis data—bisa menjadi fondasi kuat untuk asesmen formatif dan sumatif di kelas. Ini adalah panduan praktis untuk membongkar soal AKM Literasi dan Numerasi, sekaligus memberikan strategi adaptif untuk pembelajaran sehari-hari.
Perlu diingat, ANBK tidak mengukur capaian individu siswa, melainkan mengukur kualitas pembelajaran di satuan pendidikan. Namun, model soalnya sangat relevan untuk melatih kompetensi esensial siswa. Saat uji coba soal AKM di beberapa sekolah, kami menemukan bahwa siswa sering kesulitan bukan karena materinya sulit, melainkan karena mereka belum terbiasa dengan soal berbasis konteks yang membutuhkan penalaran multi-langkah.
Membedah Soal AKM Literasi: Membangun Pemahaman Kontekstual
Soal Literasi dalam AKM dirancang untuk menguji kemampuan siswa memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan berbagai jenis teks untuk mencapai tujuan, mengembangkan pengetahuan, dan berpartisipasi dalam masyarakat. Indikator soal ini sangat berbeda dengan asesmen sumatif yang seringkali hanya menguji ingatan. Soal AKM Literasi lebih mirip asesmen formatif yang memantau proses berpikir.
Contoh Soal Literasi (SMP/SMA): Analisis Informasi dari Infografis
Perhatikan infografis berikut tentang “Sampah Plastik di Laut Indonesia”.
[Bayangkan ada infografis sederhana yang menampilkan:
- Judul: “Ancaman Sampah Plastik di Laut Indonesia”
- Grafik batang: Peningkatan volume sampah plastik di laut dari tahun 2010 (misal 500 ribu ton) ke 2020 (misal 1,2 juta ton).
- Diagram lingkaran: Sumber sampah plastik (misal: 60% daratan, 20% perikanan, 10% pariwisata, 10% kapal).
- Dampak: Mikroplastik, biota laut terancam, kerusakan ekosistem.
- Ajakan: Kurangi penggunaan plastik, daur ulang, ikut bersih-bersih pantai.
]
Soal:
Berdasarkan infografis di atas, pernyataan mana yang paling tepat menggambarkan kondisi dan solusi terkait sampah plastik di laut Indonesia?
- Volume sampah plastik di laut Indonesia cenderung menurun sejak tahun 2010 karena kesadaran masyarakat yang tinggi.
- Mayoritas sampah plastik di laut Indonesia berasal dari aktivitas perikanan dan pariwisata, sehingga fokus utama adalah mengedukasi nelayan dan wisatawan.
- Peningkatan volume sampah plastik di laut Indonesia menjadi ancaman serius bagi ekosistem, dan upaya pengurangan serta daur ulang adalah langkah krusial yang bisa dilakukan.
- Meskipun sampah plastik meningkat, dampaknya terhadap biota laut masih minim sehingga tidak perlu tindakan drastis.
Kunci Jawaban: C
Analisis Jebakan dan Strategi Belajar:
- Jebakan Pilihan A: Pernyataan ini salah karena infografis menunjukkan peningkatan, bukan penurunan. Siswa yang terburu-buru atau tidak teliti membaca grafik batang akan terkecoh.
- Jebakan Pilihan B: Pernyataan ini menyesatkan. Meskipun perikanan dan pariwisata berkontribusi, infografis jelas menunjukkan “daratan” sebagai sumber mayoritas (60%). Ini menguji kemampuan siswa membaca diagram lingkaran dengan cermat.
- Jebakan Pilihan D: Pernyataan ini kontradiktif dengan bagian “Dampak” di infografis yang menyebutkan biota laut terancam. Ini menguji pemahaman siswa terhadap keseluruhan konteks dan implikasi data.
- Pembahasan Pilihan C: Pilihan C secara akurat merangkum tren peningkatan volume sampah, mengakui ancaman seriusnya, dan mengidentifikasi solusi yang relevan sesuai ajakan di infografis (pengurangan dan daur ulang). Ini adalah contoh soal yang menguji kemampuan siswa untuk menyimpulkan informasi kunci dari berbagai bagian teks visual.
Rekomendasi untuk Guru: Gunakan soal semacam ini sebagai asesmen formatif setelah siswa membaca infografis atau artikel berita. Minta mereka menjelaskan mengapa pilihan lain salah. Ini melatih penalaran dan argumentasi, sejalan dengan Capaian Pembelajaran (CP) Bahasa Indonesia yang menekankan pemahaman teks informasi. Guru juga bisa meminta siswa membuat infografis serupa dari data yang berbeda sebagai proyek kecil.
Mengurai Soal AKM Numerasi: Logika Angka dalam Konteks Nyata
Soal Numerasi dalam AKM tidak sekadar menguji kemampuan berhitung, melainkan kemampuan siswa menggunakan berbagai macam angka dan simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai konteks kehidupan. Ini adalah keterampilan yang esensial untuk abad ke-21, jauh melampaui hafalan rumus yang sering diuji di asesmen sumatif tradisional.
Contoh Soal Numerasi (SD/SMP): Analisis Data Tabel dan Perhitungan Sederhana
Perhatikan tabel data konsumsi listrik bulanan keluarga Pak Budi:
[Bayangkan ada tabel:
- Bulan | Pemakaian (kWh) | Biaya per kWh (Rp)
- Januari | 150 | 1.352
- Februari | 160 | 1.352
- Maret | 145 | 1.352
]
Soal:
Jika pada bulan April pemakaian listrik keluarga Pak Budi meningkat 10% dari pemakaian bulan Maret, berapa perkiraan total biaya listrik yang harus dibayar Pak Budi pada bulan April?
- Rp 196.000
- Rp 200.000
- Rp 215.000
- Rp 220.000
Kunci Jawaban: C
Analisis Jebakan dan Strategi Belajar:
- Langkah 1: Hitung kenaikan pemakaian bulan April.
- Pemakaian Maret = 145 kWh
- Kenaikan 10% = 0.10 * 145 = 14.5 kWh
- Pemakaian April = 145 + 14.5 = 159.5 kWh
- Langkah 2: Hitung total biaya listrik bulan April.
- Biaya per kWh = Rp 1.352
- Total biaya = 159.5 kWh * Rp 1.352/kWh = Rp 215.636
- Jebakan Pilihan A, B, D: Pilihan ini bisa muncul jika siswa salah menghitung persentase, salah mengalikan, atau membulatkan terlalu cepat. Misalnya, jika siswa membulatkan 14.5 menjadi 15, lalu mengalikan 160 * 1352. Atau jika siswa hanya mengalikan 10% dari biaya bulan Maret.
- Pembahasan Pilihan C: Pilihan C adalah hasil pembulatan terdekat dari perhitungan yang benar. Soal ini menguji pemahaman persentase, membaca tabel, dan perhitungan dasar dalam konteks kehidupan nyata. Saat uji coba di kelas 7, banyak siswa langsung mengalikan 10% dengan 145 kWh tanpa menambahkan ke pemakaian awal, ini adalah kekeliruan umum.
Rekomendasi untuk Guru: Soal semacam ini ideal untuk asesmen formatif setelah membahas materi persentase atau interpretasi data. Guru dapat memodifikasi angka atau konteks (misal: diskon belanja, perhitungan biaya transportasi) untuk menciptakan variasi. Ini membantu siswa melihat relevansi matematika dalam kehidupan sehari-hari dan melatih mereka berpikir secara sistematis, sesuai dengan Capaian Pembelajaran (CP) Matematika.
Memahami Survei Karakter ANBK: Refleksi Diri dan Lingkungan Belajar
Survei Karakter dalam ANBK bertujuan mengukur sikap, nilai, keyakinan, dan kebiasaan yang mencerminkan Profil Pelajar Pancasila. Ini bukanlah asesmen sumatif yang menilai benar atau salah, melainkan alat untuk memetakan kondisi non-kognitif siswa dan iklim sekolah. Guru dapat mengadaptasi prinsip ini untuk asesmen formatif non-kognitif.
Pendekatan Soal Survei Karakter:
Soal survei karakter biasanya berupa pernyataan yang harus dijawab siswa dengan skala (misal: “Sangat Setuju”, “Setuju”, “Tidak Setuju”, “Sangat Tidak Setuju”) atau memilih opsi yang paling sesuai dengan diri mereka atau lingkungan sekolah.
Contoh Pernyataan (Adaptasi untuk Refleksi Kelas):
- “Saya merasa nyaman untuk menyampaikan pendapat yang berbeda di kelas ini.” (Mengukur dimensi Bergotong Royong dan Bernalar Kritis)
- “Saya sering membantu teman yang kesulitan memahami materi pelajaran.” (Mengukur dimensi Bergotong Royong)
- “Saya selalu berusaha mencari tahu lebih dalam tentang topik yang menarik minat saya.” (Mengukur dimensi Mandiri dan Bernalar Kritis)
Rekomendasi untuk Guru: Gunakan pernyataan serupa sebagai instrumen refleksi di akhir unit pembelajaran atau sebagai bagian dari jurnal siswa. Hasilnya bukan untuk dinilai secara kuantitatif, melainkan untuk memicu diskusi kelas tentang iklim belajar dan bagaimana siswa bisa lebih mengembangkan karakter Profil Pelajar Pancasila. Ini adalah asesmen formatif yang berharga untuk memantau perkembangan holistik siswa.
FAQ Asesmen Nasional & AKM
Apakah hasil AKM menentukan kelulusan siswa?
Tidak, hasil AKM tidak menentukan kelulusan individu siswa. AKM adalah asesmen untuk memetakan kualitas sistem pendidikan di sekolah, bukan untuk menilai prestasi pribadi siswa.
Bagaimana guru bisa menggunakan soal AKM untuk pembelajaran di kelas?
Guru dapat mengadaptasi model soal AKM yang berbasis penalaran dan konteks nyata untuk membuat asesmen formatif atau sumatif. Ini membantu melatih kemampuan berpikir kritis dan problem-solving siswa, bukan sekadar hafalan.
Apakah ada perbedaan AKM untuk jenjang SD, SMP, dan SMA?
Ya, level kompleksitas soal AKM disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Konteks dan tingkat penalaran yang dibutuhkan akan semakin tinggi untuk jenjang SMP dan SMA dibandingkan SD.
Untuk eksplorasi lebih lanjut tentang strategi pengembangan asesmen dalam Kurikulum Merdeka, [lihat juga: modul ajar dan asesmen formatif].

