Antusiasme Tiongkok terhadap kecerdasan buatan (AI) memang terlihat nyata, namun bagi sebagian besar populasinya, semangat ini bercampur aduk dengan kekhawatiran mendalam yang berasal dari pengalaman PHK massal pada tahun 1990-an. Hal ini menyebabkan optimisme dan ketakutan sulit dibedakan satu sama lain, terutama dari sudut pandang eksternal.
Kondisi ambivalen ini, di mana optimisme dan ketakutan menyatu dalam persepsi publik, menjadi cerminan unik dari perkembangan teknologi di Tiongkok, sebagaimana dilansir dari https://asteriskmag.com/feed. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada dorongan kuat menuju masa depan berbasis AI, pengalaman kolektif masa lalu tetap membentuk reaksi dan adaptasi masyarakat.
Latar belakang historis PHK massal di Tiongkok pada era 1990-an, terutama akibat reformasi perusahaan milik negara dan restrukturisasi industri, telah meninggalkan jejak mendalam dalam memori kolektif. Jutaan pekerja kehilangan pekerjaan mereka, memaksa adaptasi drastis dan menanamkan rasa ketidakpastian yang signifikan terhadap perubahan ekonomi berskala besar.
Pengalaman pahit tersebut kini kembali membayangi saat negara gencar mengadopsi kecerdasan buatan sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi dan inovasi. Meskipun AI menjanjikan peningkatan efisiensi, produktivitas, dan terobosan baru di berbagai sektor, potensi penggantian pekerjaan oleh otomatisasi menimbulkan kekhawatiran baru akan terulangnya sejarah hilangnya mata pencarian. Bagi mereka yang pernah merasakan dampak PHK, semangat yang terlihat dari implementasi teknologi baru ini bisa jadi merupakan upaya adaptasi yang didorong oleh ketakutan akan tertinggal atau kembali menghadapi gejolak ekonomi.
Dengan demikian, perjalanan Tiongkok menuju masa depan yang didorong oleh AI adalah sebuah narasi kompleks yang sarat dengan ambisi dan bayang-bayang masa lalu, di mana setiap langkah maju disikapi dengan campuran harapan dan kehati-hatian. (Sumber: https://asteriskmag.com/issues/15/chinas-last-bus)






