Boarding China’s Last Bus

Sumber Gambar: https://asteriskmag.com/issues/15/chinas-last-bus

Antusiasme Tiongkok terhadap kecerdasan buatan (AI) memang nyata dan gencar, namun bagi populasi yang pernah melewati masa PHK massal pada tahun 1990-an, batas antara optimisme dan ketakutan seringkali menjadi kabur dan terlihat identik dari luar.

Antusiasme yang tinggi terhadap AI di Tiongkok, yang terlihat dari investasi besar dan dorongan pemerintah, memiliki sisi lain di mata masyarakat, sebagaimana dilansir dari https://asteriskmag.com/feed. Pengalaman pahit PHK massal di tahun 1990-an, yang terjadi akibat restrukturisasi perusahaan milik negara, masih meninggalkan trauma kolektif. Pengalaman tersebut menumbuhkan perspektif bahwa inovasi teknologi yang menjanjikan kemajuan dan efisiensi, juga berpotensi membawa dampak disruptif yang merugikan, terutama terkait stabilitas pekerjaan.

Read More

Perasaan ambivalen ini menciptakan sebuah paradoks. Di satu sisi, AI dipandang sebagai kunci untuk modernisasi dan daya saing global Tiongkok, menjanjikan efisiensi luar biasa dan pertumbuhan ekonomi. Namun, di sisi lain, bayang-bayang masa lalu membangkitkan kekhawatiran serius bahwa otomatisasi akan mengeliminasi jutaan pekerjaan, menyebabkan dislokasi sosial dan ekonomi yang luas. Hal ini menjelaskan mengapa, meskipun ada narasi kuat tentang kemajuan AI, sentimen ketidakpastian dan bahkan ketakutan tetap kuat di antara penduduk, mengingatkan pada periode sulit di masa lalu.

(Sumber: https://asteriskmag.com/issues/15/chinas-last-bus)

Related posts