Seringkali kita diajarkan bahwa kebaikan adalah bersikap sopan, patut, dan menghindari konfrontasi. Namun, bagaimana jika kepatutan itu sendiri adalah belenggu, alat halus untuk membungkam suara-suara perubahan? Kisah para feminis awal seperti Mary Astell dan Catharine Macaulay, yang dengan berani menolak nasihat rekan-rekan pria mereka untuk tetap santun dalam perdebatan, menawarkan sebuah pelajaran esensial: bahwa terkadang, kegigihan yang tak kenal kompromi – bahkan apa yang disebut sebagai ‘fanatisme’ – adalah prasyarat tak terhindarkan untuk mengikis fondasi ketidakadilan dan membuka jalan bagi kemajuan sejati.
Fakta & Latar Belakang Peristiwa
Pada abad ke-17 dan ke-18, saat gagasan Pencerahan mulai merebak di Eropa, peran perempuan dalam masyarakat masih terpinggirkan. Lingkaran intelektual didominasi oleh pria, dan aspirasi perempuan untuk pendidikan atau partisipasi publik seringkali dicemooh. Di tengah kondisi ini, munculah sosok-sosok visioner seperti Mary Astell dan Catharine Macaulay. Seperti yang diulas dalam laporan mendalam di https://aeon.co/feed, kedua pemikir ini tidak hanya menyuarakan ketidakadilan yang dihadapi perempuan tetapi juga menolak untuk mengikuti ‘aturan main’ yang ditetapkan oleh lawan debat mereka. Mereka didesak untuk bersikap ‘polite’ (sopan) – sebuah tuntutan yang secara implisit berarti tidak terlalu bersemangat, tidak terlalu radikal, dan tidak terlalu menantang status quo. Namun, Astell dan Macaulay memahami bahwa ‘kepatutan’ semacam itu hanyalah kedok untuk mempertahankan tatanan yang tidak adil. Mereka memilih jalur ketegasan, bahkan kegigihan yang vokal, untuk menegaskan argumen mereka tentang kesetaraan dan hak-hak perempuan, menolak untuk dibungkam oleh ekspektasi sosial yang didiktekan oleh patriarki.
Analisis Kritis & Sudut Pandang Mendalam
Keputusan Mary Astell dan Catharine Macaulay untuk menolak ‘kepatutan’ bukanlah sekadar pilihan gaya retorika; itu adalah tindakan filosofis dan politis yang mendalam. Kepatutan, dalam konteks sosial yang tidak setara, seringkali berfungsi sebagai mekanisme kontrol yang halus namun kuat. Ia menuntut agar pihak yang terpinggirkan tidak ‘mengganggu kedamaian’ atau ‘mempermalukan’ pihak yang berkuasa, dengan demikian memastikan bahwa struktur kekuasaan tetap tidak tertantang. Bagi Astell dan Macaulay, bersikap sopan berarti mengkompromikan kebenaran fundamental tentang harkat martabat manusia dan menyerahkan tuntutan keadilan demi kenyamanan sosial.
Aspek psikologis dari fenomena ini sangat menarik. Mengapa kita begitu menghargai kepatutan, bahkan ketika ia mengorbankan kebenaran? Sebagian besar alasannya terletak pada kecenderungan manusia untuk menghindari konflik dan memelihara harmoni sosial, bahkan yang palsu sekalipun. Namun, ketika harmoni itu dibangun di atas penindasan atau ketidakadilan, menolak untuk bersikap patut menjadi tindakan moral yang paling tinggi. Ini menuntut keberanian luar biasa untuk menghadapi potensi penolakan sosial, ejekan, atau bahkan ancaman terhadap reputasi pribadi. Astell dan Macaulay berani mengambil risiko ini karena mereka memahami bahwa perubahan transformatif tidak pernah lahir dari konsensus yang nyaman, melainkan dari konfrontasi yang mengusik.
Secara sosial, desakan untuk bersikap ‘patut’ terhadap kelompok yang menuntut hak-haknya adalah strategi umum untuk memarjinalkan dan mendelegitimasi tuntutan mereka. Gerakan-gerakan sosial, mulai dari hak-hak sipil hingga feminisme modern dan aktivisme iklim, seringkali dicap ‘ekstrem’ atau ‘tidak sopan’ ketika mereka menantang norma-norma yang mapan. Namun, justru dalam ‘ketidakpatutan’ itulah terletak kekuatan untuk menarik perhatian pada ketidakadilan yang selama ini diabaikan. Ini adalah teriakan yang menembus kebisingan kepuasan diri, memaksa masyarakat untuk melihat, mendengar, dan akhirnya, bertindak. Ketegasan radikal Astell dan Macaulay menjadi cermin bagi kita bahwa kemajuan sejati seringkali mensyaratkan kita untuk melampaui batasan kesantunan demi memperjuangkan visi keadilan yang lebih besar.
Refleksi & Prospek Ke Depan
- Mengidentifikasi Kepatutan yang Membelenggu: Kita perlu belajar membedakan antara kesantunan yang tulus dengan kepatutan yang digunakan sebagai alat untuk membungkam kritik dan mempertahankan status quo. Kapan pun kita didesak untuk diam demi ‘kedamaian’, kita harus bertanya: kedamaian untuk siapa, dan dengan mengorbankan apa?
- Menganut Ketegasan sebagai Kekuatan Moral: Kisah Astell dan Macaulay mengajarkan bahwa ketegasan dalam menyuarakan kebenaran, bahkan jika itu ‘tidak populer’ atau ‘tidak sopan’, adalah bentuk kekuatan moral yang krusial untuk perubahan. Ini bukan tentang agresi tanpa tujuan, melainkan keyakinan yang teguh pada prinsip-prinsip yang adil.
- Peran ‘Suara yang Mengganggu’ dalam Demokrasi: Demokrasi yang sehat membutuhkan suara-suara yang berani menantang otoritas dan norma, bahkan jika suara-suara itu ‘mengganggu’. Mereka adalah pemicu refleksi, katalisator debat, dan penjaga akuntabilitas yang mencegah stagnasi dan korupsi.
- Mendorong Keberanian untuk Berkonflik demi Kebenaran: Dalam kehidupan pribadi dan publik, kita harus memiliki keberanian untuk berkonflik demi kebenaran, untuk menyuarakan ketidakadilan, meskipun itu tidak nyaman. Perubahan signifikan seringkali dimulai dari ketidaknyamanan yang berani dihadapi oleh individu atau kelompok.
Pada akhirnya, warisan Mary Astell dan Catharine Macaulay adalah pengingat abadi bahwa kemajuan seringkali menuntut lebih dari sekadar diplomasi yang santun. Ia membutuhkan hati yang berani untuk melawan arus, suara yang gigih untuk menuntut keadilan, dan keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa kebenaran, meskipun pahit, harus selalu diutamakan. Di dunia yang masih berjuang dengan ketidaksetaraan, semangat ‘ketidakpatutan’ yang berprinsip ini tetap menjadi kompas vital bagi setiap upaya menuju masyarakat yang lebih adil dan setara.
(Sumber Referensi: https://aeon.co/essays/polite-debate-has-privilege-the-marginalised-need-zealotry)






