Menaklukkan Asesmen Nasional (AN) dan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) bukan sekadar menghafal materi, melainkan menguasai strategi penalaran kontekstual yang menghubungkan konsep dengan kehidupan sehari-hari. Pemahaman ini krusial, tidak hanya untuk siswa yang akan menghadapi ANBK, tetapi juga bagi guru dalam merancang asesmen formatif maupun sumatif yang relevan di kelas Kurikulum Merdeka.
Saat saya mendampingi guru menyusun soal, seringkali terjadi kekeliruan mendasar: soal hanya menguji ingatan. Padahal, inti AKM adalah mengukur kemampuan bernalar siswa dalam konteks nyata. Ini adalah lampu navigasi bagi guru untuk bergeser dari asesmen berbasis ingatan ke asesmen berbasis kompetensi, yang sejatinya juga mendukung Capaian Pembelajaran (CP) dan Tujuan Pembelajaran (TP) yang ingin dicapai.
Memahami Pilar AKM: Literasi, Numerasi, dan Survei Karakter untuk Pembelajaran Nyata
AKM adalah jantung dari Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), menggantikan Ujian Nasional (UN) dengan fokus pada kompetensi esensial. AKM mengukur Literasi Membaca dan Numerasi, sementara ANBK juga dilengkapi Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar. Perbedaannya mendasar: UN menguji penguasaan materi mata pelajaran, sedangkan AKM menguji kompetensi dasar yang diperlukan untuk belajar sepanjang hayat.
Bagi guru, memahami indikator soal AKM sangat penting. Ini bukan hanya tentang persiapan ANBK, tetapi juga bagaimana kita mendesain asesmen formatif harian atau asesmen sumatif akhir bab. Jika soal AKM menekankan penalaran kontekstual, maka asesmen kita di kelas pun harus mencerminkan hal yang sama. Misalnya, daripada meminta siswa menyebutkan rumus, mintalah mereka menggunakan rumus tersebut untuk memecahkan masalah nyata yang disajikan dalam bentuk tabel atau grafik. Ini akan melatih kemampuan bernalar yang sama seperti yang diukur AKM.
Bedah Soal Literasi AKM Kontekstual (SMP/SMA): Mengurai Informasi dari Teks Multimodal
Soal literasi AKM seringkali menyajikan teks yang kompleks, bisa berupa infografis, artikel berita, atau bahkan iklan. Siswa dituntut tidak hanya membaca, tetapi juga memahami, menganalisis, dan mengevaluasi informasi tersebut.
Contoh Soal Literasi (Level SMP/SMA):
Teks:
Judul: Sampah Plastik di Perkotaan: Ancaman dan Solusi
Sampah plastik menjadi masalah serius di banyak kota besar di Indonesia. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa rata-rata produksi sampah plastik per kapita di perkotaan mencapai 0,7 kg per hari. Mayoritas sampah ini berasal dari kemasan makanan dan minuman sekali pakai. Upaya pengurangan telah dilakukan, seperti kampanye ‘Bawa Tas Belanja Sendiri’ dan larangan penggunaan kantong plastik di beberapa ritel modern. Namun, efektivitasnya masih terbatas karena kurangnya kesadaran masyarakat dan alternatif yang belum masif.
Infografis: Komposisi Sampah di Kota “Majujaya” (per tahun)
- Sisa Makanan: 35%
- Plastik: 25%
- Kertas: 15%
- Kain: 10%
- Logam: 5%
- Lain-lain: 10%
Soal:
Berdasarkan teks dan infografis di atas, pernyataan mana yang paling tepat menggambarkan tantangan utama dalam penanganan sampah plastik di Kota Majujaya?
- Volume sampah sisa makanan lebih besar daripada sampah plastik.
- Regulasi larangan kantong plastik belum diterapkan secara merata.
- Kesadaran masyarakat dan ketersediaan alternatif masih menjadi kendala utama.
- Produksi sampah plastik per kapita lebih tinggi dibandingkan jenis sampah lainnya.
Kunci Jawaban: C
Pembahasan Runtut:
- Identifikasi Informasi Kunci dari Teks: Teks menyebutkan “efektivitasnya masih terbatas karena kurangnya kesadaran masyarakat dan alternatif yang belum masif.” Ini adalah poin kunci mengenai tantangan.
- Analisis Infografis: Infografis menunjukkan komposisi sampah, di mana plastik adalah 25%. Ini memberikan konteks kuantitatif, tetapi tidak secara langsung menjawab tentang *tantangan utama* dalam penanganan.
- Evaluasi Pilihan Jawaban:
- A. “Volume sampah sisa makanan lebih besar daripada sampah plastik.” Benar berdasarkan infografis (35% vs 25%), tetapi ini fakta tentang komposisi, bukan tantangan utama penanganan seperti yang disebutkan teks.
- B. “Regulasi larangan kantong plastik belum diterapkan secara merata.” Teks menyebutkan larangan di “beberapa ritel modern” dan efektivitas terbatas, tapi tidak secara eksplisit menyatakan “belum diterapkan secara merata” sebagai tantangan utama. Fokus teks lebih pada kesadaran dan alternatif.
- C. “Kesadaran masyarakat dan ketersediaan alternatif masih menjadi kendala utama.” Pernyataan ini secara langsung diambil dari kalimat kunci dalam teks (“kurangnya kesadaran masyarakat dan alternatif yang belum masif”). Ini adalah jawaban yang paling komprehensif dan tepat sesuai konteks teks.
- D. “Produksi sampah plastik per kapita lebih tinggi dibandingkan jenis sampah lainnya.” Teks menyebut rata-rata produksi sampah plastik per kapita 0,7 kg per hari, tetapi tidak membandingkannya dengan jenis sampah lain secara eksplisit dalam konteks per kapita. Infografis menunjukkan komposisi total, bukan produksi per kapita.
- Kesimpulan: Pilihan C adalah yang paling akurat mencerminkan tantangan utama yang diuraikan dalam teks.
Saat uji coba soal seperti ini di kelas 8, banyak siswa terkecoh di pilihan A karena langsung melihat angka terbesar di infografis tanpa mengaitkannya dengan inti pertanyaan tentang ‘tantangan utama penanganan’. Ini menunjukkan pentingnya melatih penalaran holistik.
Mengasah Numerasi AKM: Analisis Data dan Penalaran Kuantitatif (SD/SMP)
Soal numerasi AKM seringkali melibatkan data dalam bentuk tabel, grafik, atau diagram. Siswa perlu menafsirkan, mengolah, dan menggunakan data tersebut untuk memecahkan masalah. Fokusnya bukan pada hitungan rumit, melainkan pada pemahaman konsep dan penerapannya.
Contoh Soal Numerasi (Level SD/SMP):
Tabel: Data Penjualan Toko “Buku Cerdas” Selama 5 Bulan Terakhir
| Bulan | Jumlah Buku Terjual (unit) | Pendapatan (Juta Rupiah) |
|---|---|---|
| Januari | 120 | 6 |
| Februari | 150 | 7.5 |
| Maret | 130 | 6.5 |
| April | 160 | 8 |
| Mei | 140 | 7 |
Soal:
Berdasarkan data penjualan Toko “Buku Cerdas”, rata-rata pendapatan toko per bulan selama 5 bulan terakhir adalah…
- Rp 6.800.000,00
- Rp 7.000.000,00
- Rp 7.200.000,00
- Rp 7.500.000,00
Kunci Jawaban: B
Pembahasan Runtut:
- Pahami Pertanyaan: Pertanyaan meminta rata-rata pendapatan toko per bulan. Fokus pada kolom “Pendapatan (Juta Rupiah)”.
- Kumpulkan Data Pendapatan:
- Januari: 6 Juta
- Februari: 7.5 Juta
- Maret: 6.5 Juta
- April: 8 Juta
- Mei: 7 Juta
- Hitung Total Pendapatan: Jumlahkan semua pendapatan:
6 + 7.5 + 6.5 + 8 + 7 = 35 Juta Rupiah
- Hitung Rata-rata Pendapatan: Bagi total pendapatan dengan jumlah bulan (5 bulan):
Rata-rata = Total Pendapatan / Jumlah Bulan
Rata-rata = 35 Juta / 5 = 7 Juta Rupiah
- Konversi ke Bentuk Rupiah Penuh: Rp 7.000.000,00
Di kelas 6, soal ini sering jadi pemicu diskusi yang bagus saat asesmen formatif karena menuntut siswa untuk cermat memilih data yang relevan (pendapatan, bukan jumlah buku) dan melakukan operasi dasar dengan benar. Banyak yang keliru menjumlahkan jumlah buku, padahal yang ditanyakan adalah pendapatan.
Menguak Aspek Survei Karakter ANBK: Refleksi Diri dan Lingkungan Belajar
Survei Karakter dalam ANBK dirancang untuk mengukur sikap, nilai, dan kebiasaan yang mencerminkan Profil Pelajar Pancasila. Soal-soalnya biasanya berupa skenario atau pernyataan yang meminta siswa memilih respons yang paling sesuai dengan dirinya atau situasi yang diberikan.
Contoh Soal Survei Karakter (Level SD/SMP/SMA):
Skenario:
Anda sedang mengerjakan tugas kelompok IPA. Salah satu anggota kelompok Anda jarang berkontribusi, bahkan saat presentasi ia terlihat kurang siap. Teman-teman lain di kelompok mulai merasa kesal.
Pertanyaan:
Apa yang akan Anda lakukan untuk menghadapi situasi ini?
- Membiarkannya saja karena bukan urusan saya dan dia akan belajar sendiri.
- Melaporkannya langsung kepada guru agar dia mendapat teguran.
- Mencoba berbicara baik-baik dengannya secara pribadi untuk menanyakan kendala yang dihadapi dan menawarkan bantuan.
- Mengajak teman-teman lain untuk tidak mengajaknya lagi dalam tugas kelompok selanjutnya.
Kunci Jawaban: C
Pembahasan Runtut:
Soal survei karakter bertujuan mengukur dimensi Profil Pelajar Pancasila, seperti Bergotong Royong, Mandiri, dan Bernalar Kritis, serta berempati. Pilihan jawaban yang paling ideal adalah yang menunjukkan inisiatif positif, komunikasi yang baik, dan empati.
- A. Membiarkan saja menunjukkan sikap apatis dan kurang bertanggung jawab terhadap dinamika kelompok.
- B. Melapor langsung ke guru bisa menjadi opsi, tetapi sebaiknya setelah mencoba komunikasi langsung. Ini menunjukkan kurangnya inisiatif penyelesaian masalah secara mandiri.
- C. Berbicara baik-baik secara pribadi adalah pendekatan yang paling konstruktif. Ini menunjukkan empati, kemampuan komunikasi, dan keinginan untuk menyelesaikan masalah internal kelompok secara damai. Ini juga melatih kemandirian dan gotong royong.
- D. Mengucilkan anggota kelompok adalah tindakan yang tidak mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan bisa memperburuk situasi.
Guru bisa memakai soal ini untuk asesmen formatif harian atau diskusi kelompok sebagai bagian dari P5. Melalui diskusi, siswa diajak merefleksikan pilihan mereka dan memahami dampak dari setiap tindakan terhadap kelompok dan individu.
Strategi Praktis Menghadapi Soal AKM dan Merancang Asesmen Berbasis Penalaran
Untuk siswa:
- Baca Cermat, Pahami Konteks: Jangan terburu-buru. Pahami seluruh teks, tabel, atau grafik sebelum menjawab. Identifikasi kata kunci pada pertanyaan.
- Hubungkan Informasi: AKM seringkali meminta Anda menghubungkan beberapa informasi dari sumber yang berbeda (teks dan infografis, misalnya).
- Fokus pada Penalaran, Bukan Hafalan: Jawablah berdasarkan logika dan informasi yang tersedia, bukan sekadar ingatan atau asumsi pribadi.
- Latihan Soal Kontekstual: Perbanyak latihan soal yang berbasis masalah kehidupan nyata, bukan hanya soal-soal rumus.
Untuk guru:
- Desain Soal Mirip AKM: Buat soal formatif dan sumatif yang melibatkan teks, data, atau skenario nyata.
- Libatkan Berbagai Sumber Informasi: Gunakan infografis, artikel berita, data statistik, atau kasus studi dalam soal Anda.
- Fokus pada Proses Penalaran: Minta siswa menjelaskan bagaimana mereka sampai pada jawaban, bukan hanya hasil akhir. Ini bisa jadi asesmen formatif yang kuat.
- Integrasikan Survei Karakter: Gunakan skenario sosial/etika sebagai pemicu diskusi atau tugas reflektif di kelas untuk mengembangkan dimensi Profil Pelajar Pancasila.
Memahami AKM berarti memahami arah pendidikan kita: melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga mampu bernalar, beradaptasi, dan berkarakter kuat dalam menghadapi tantangan zaman. [lihat juga: asesmen formatif modul ajar]
Apa bedanya AKM dengan Ujian Nasional (UN)?
AKM mengukur kompetensi dasar literasi dan numerasi yang diperlukan untuk belajar, sementara UN mengukur penguasaan materi mata pelajaran secara spesifik. AKM lebih berfokus pada penalaran dan konteks kehidupan nyata, bukan hafalan.
Apakah hasil ANBK memengaruhi kelulusan siswa?
Tidak. ANBK adalah asesmen sistem pendidikan, bukan asesmen individu siswa. Hasilnya digunakan untuk memetakan dan mengevaluasi kualitas sistem pendidikan di sekolah dan daerah, bukan untuk menentukan kelulusan siswa.
Bagaimana guru bisa menggunakan prinsip AKM dalam asesmen harian?
Guru dapat merancang soal yang berbasis masalah kontekstual, menggunakan berbagai jenis teks dan data (tabel, grafik), serta mendorong siswa untuk bernalar dan menjelaskan pemikiran mereka, bukan sekadar memberikan jawaban akhir.

