Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi PKB, Daniel Johan, mendesak pemerintah agar terus mengupayakan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia, dengan menyoroti efektivitas hujan buatan dan perlunya memperbanyak operasi water bombing sebagai solusi utama.
Dorongan ini muncul setelah Daniel Johan merespons pernyataan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang menyebutkan bahwa hujan adalah cara paling efektif untuk memadamkan karhutla, sebagaimana dilansir dari https://news.detik.com/berita/rss. Daniel Johan menegaskan bahwa hujan memang sudah menjadi harapan dan doa bagi seluruh masyarakat yang terdampak.
“Ya iya lah (hujan) paling efektif, seperti kalau lapar ya makan paling jitu, hujan sudah menjadi doa dan harapan semua warga yang terdampak kebakaran lahan dan hutan saat ini,” kata Daniel Johan saat dihubungi, Jumat (28/8/2026).
Lebih lanjut, Daniel Johan menyatakan bahwa semua pihak akan sangat senang jika pemerintah dapat mewujudkan hujan buatan di lokasi karhutla. Menurutnya, hal ini akan menjawab doa lebih dari 3 juta warga yang terdampak karhutla.
“Kita senang kalau menteri bisa lakukan hujan buatan sebanyaknya di lokasi kebakaran, itu menjawab doa dan harapan lebih dari 3 juta warga yang terdampak agar bencana kebakaran dapat segera teratasi,” ucap dia.
Meskipun demikian, Daniel Johan juga mengingatkan Menhut untuk mempertimbangkan opsi lain jika hujan buatan tidak memungkinkan. Ia meminta pemerintah untuk segera melakukan water bombing secara masif.
“Hujan buatan memang prioritas, selain upaya lain pemadaman seperti water bombing dan pemulihan kembali lahan gambut yang rusak setelah ini, kalau yang tidak ada awan (untuk hujan buatan), segera perbanyak water bombing,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sendiri memang telah menyatakan bahwa hujan merupakan metode paling efektif untuk memadamkan karhutla yang melanda berbagai daerah di Indonesia, baik itu hujan alami maupun hasil modifikasi.
Untuk itu, ia menambahkan, pemerintah sedang mengoptimalkan operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah-wilayah yang masih memiliki potensi bibit awan hujan untuk memadamkan karhutla.
“Untuk saat ini di Kaltim, khususnya Berau, masih terdapat bibit awan hujan. Belajar dari tahun ke tahun, cara paling efektif untuk memadamkan karhutla adalah dengan hujan, baik alami maupun hasil modifikasi cuaca,” katanya dilansir Antara, Kamis (27/8).
Sinergi Kebijakan dan Tantangan Lingkungan dalam Penanganan Karhutla
Analisis mendalam artikel ini menyoroti urgensi penanganan karhutla yang krusial. Dorongan PKB melalui Daniel Johan merefleksikan peran legislatif dalam mendesak eksekutif untuk tindakan konkret. Pernyataan Menhut Raja Juli Antoni tentang efektivitas hujan, baik alami maupun modifikasi, sejalan dengan harapan, namun memunculkan diskusi tentang tantangan implementasi. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan sangat bergantung pada ketersediaan bibit awan, yang tidak selalu ada. Oleh karena itu, usulan Daniel Johan untuk memperbanyak water bombing jika hujan buatan tidak memungkinkan adalah langkah pragmatis untuk respons cepat. Penekanan pada pemulihan lahan gambut yang rusak juga menunjukkan kesadaran akan solusi jangka panjang. Sinergi antara kebijakan proaktif, teknologi mitigasi, dan restorasi lingkungan menjadi kunci dalam menghadapi krisis karhutla yang kompleks ini.
(Sumber: https://news.detik.com/berita/d-8637530/pkb-dorong-hujan-buatan-dan-perbanyak-water-bombing-untuk-atasi-karhutla)







