Jalan menuju kawasan adat Baduy di Kabupaten Lebak, Banten, mengalami kerusakan parah. Kondisi ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengendara dan mempersulit mobilitas warga, sehingga tokoh adat setempat mendesak pemerintah untuk segera melakukan perbaikan demi menunjang aktivitas dan pariwisata.
Permasalahan infrastruktur jalan yang vital ini menjadi sorotan utama di masyarakat setempat, sebagaimana dilansir dari https://news.detik.com/berita/rss.
Seorang pengendara bernama Budi mengungkapkan ketidaknyamanannya saat melintasi jalan rusak tersebut pada Kamis (27/8/2026) di Lebak. Menurutnya, kondisi jalan yang berlubang dan bergelombang di banyak titik sangat mengganggu perjalanan dan berpotensi membahayakan.
Kerusakan infrastruktur jalan ini terjadi di beberapa ruas vital, baik itu jalan alternatif maupun jalan utama yang menjadi akses menuju permukiman adat Baduy. Salah satu ruas yang disebutkan mengalami kerusakan parah adalah Jalan Raya Aweh-Gununganten-Cikapek.
Selain itu, ruas Cikapek yang merupakan jalur alternatif untuk mempersingkat waktu tempuh juga tidak luput dari kerusakan. Kepala Desa Kanekes atau Jaro Pemerintah Masyarakat Adat Baduy, Oom, menegaskan bahwa jalan yang rusak tersebut secara signifikan mempersulit mobilitas sehari-hari warga Baduy, mulai dari urusan pendidikan hingga perekonomian.
Oom juga menyampaikan bahwa banyak pengunjung dan wisatawan yang mengeluhkan kondisi jalan menuju Baduy, menanyakan apakah akan melalui Kalang Anyar atau Aweh, karena keduanya dilaporkan mengalami kerusakan. Oleh karena itu, ia sangat berharap agar perbaikan jalan dapat segera dilakukan untuk mendukung kelancaran akses dan kunjungan wisatawan.
Tidak hanya jalan, Oom juga menyoroti kebutuhan perbaikan fasilitas di Terminal Ciboleger, yang merupakan salah satu gerbang utama bagi wisatawan menuju kawasan Baduy. “Jadi kami mendukung dan mendorong agar pembangunan akses menuju Saba Baduy dipercepat. Terminal ini kecil nggak bisa muat banyak kendaraan. Mereka yang hendak ke Baduy pada balik lagi karena parkiran penuh,” jelasnya, menyoroti kapasitas terminal yang tidak memadai dan sering menyebabkan wisatawan kesulitan parkir.
Menganalisis Urgensi Perbaikan Infrastruktur Menuju Kawasan Adat Baduy
Kerusakan jalan menuju Kawasan Adat Baduy di Lebak, Banten, bukan sekadar masalah teknis, melainkan cerminan dari tantangan pembangunan infrastruktur yang lebih luas di daerah-daerah dengan nilai budaya dan pariwisata tinggi. Baduy, sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang kaya, menarik ribuan pengunjung setiap tahun. Kondisi jalan yang rusak parah tidak hanya menghambat kenyamanan dan keselamatan pengendara serta mobilitas warga adat Baduy dalam beraktivitas sehari-hari, tetapi juga secara signifikan mereduksi potensi pariwisata daerah. Keluhan dari pengunjung dan tokoh adat seperti Jaro Oom menunjukkan adanya dampak ekonomi yang nyata, di mana wisatawan enggan kembali atau bahkan batal berkunjung karena akses yang sulit dan fasilitas pendukung seperti terminal yang tidak memadai. Ini menyoroti kebutuhan akan investasi infrastruktur yang berkelanjutan dan terintegrasi, yang tidak hanya memperbaiki jalan tetapi juga meningkatkan fasilitas pendukung pariwisata. Perbaikan ini akan menjadi kunci untuk menjaga kelestarian budaya, meningkatkan ekonomi lokal melalui pariwisata berkelanjutan, serta menjamin hak-hak dasar masyarakat adat untuk aksesibilitas yang layak. Pemerintah daerah dan pusat memiliki peran krusial dalam merespons desakan ini, memastikan bahwa pembangunan tidak hanya terpusat di perkotaan, tetapi juga menjangkau dan mendukung komunitas adat yang merupakan penjaga kekayaan budaya bangsa.
(Sumber: https://news.detik.com/berita/d-8636467/jalan-ke-kawasan-baduy-lebak-rusak-tokoh-adat-harap-segera-diperbaiki)






