Aspek Pengukuran Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar) 2023 dan Contoh Indikator Soal


SEARCH DISINI :


Aspek Pengukuran Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar) 2023 dan Contoh Indikator Soal

Amongguru.com. Pemerintah akan menyelenggarakan Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar) Tahun 2023 untuk Kepala Satuan Pendidikan dan Pendidik.

Read More

Survei Lingkungan Belajar wajib diisi oleh seluruh Kepala Satuan Pendidikan dan Guru yang terdaftar pada sistem pendataan Dapodik dan Emis Kepala Satuan Pendidikan dan Guru dapat login menggunakan data yang tercetak pada kartu Login Sulingjar,

Survei Lingkungan Belajar adalah upaya untuk mengukur kualitas pembelajaran dan iklim sekolah yang menunjang pembelajaran pada satuan pendidikan. Secara lebih khusus, Survei Lingkungan Belajar mengukur faktor-faktor yang memengaruhi pembelajaran, baik faktor yang secara langsung maupun tidak langsung.

Faktor yang secara langsung mempengaruhi pembelajaran, misalnya cara guru melaksanakan pembelajaran di kelas, sedangkan secara tidak langsung, seperti kepemimpinan kepala satuan pendidikan, iklim keamanan, dan iklim kebinekaan.

Dengan demikian aspek pengukuran Survei Lingkungan Belajar akan mengukur komponen yang terkait dengan pembelajaran.

Aspek Pengukuran Sulingjar

Terdapat lima aspek yang diukur dalam Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar), yaitu iklim keamanan sekolah, iklim kebhinekaan sekolah, iklim sosial ekonomi, kualitas pembelajaran, dan pengembangan guru.

Berikut ini aspek yang diukur dalam Survei Lingkungan Belajar dan indikator pengukurannya.

1. Iklim keamanan sekolah

a. Keamanan dan kesejahteraan peserta didik sikap

b. Keyakinan guru kebijakan dan program sekola

2. Iklim kebhinekaan sekolah

a. Praktik multikultural di kelas sikap

b. Keyakinan guru maupun kepala sekolah kebijakan dan program sekolah.

3. Indeks sosial ekonomi

a. Pendidikan orang tua

b. Profesi orang tua

c. Fasilitas belajar di rumah.

4. Kualitas pembelajaran

a. Manajemen kelas

b. Dukungan afektif

c. Aktivitas konekti

5. Pengembangan guru

a. Refleksi dan pengembangan pembelajaran

b. Dukungan untuk refleksi guru.

Indikator Soal Survei Lingkungan Belajar

Seperti halnya AKM ANBK untuk ingkup materi yang ditanyakan dalam Survei Lingkungan Belajar telah dishare oleh Pusat Asesmen dan Pembelajaran, Badan Litbang dan Perbukuan dalam bentuk Framework Survei Lingkungan Belajar.

Berdasarkan Framework Survei Lingkungan Belajar, variabel soal atau pertanyaan Survei Lingkungan Belajar dikelompokkan ke dalam sembilan bagian, sebagai berikut.

1. Latar belakang responden.

2. Proses pembelajaran.

3. Refleksi dan perbaikan pembelajaran.

4. Kepemimpinan instruksional.

5. Iklim keamanan.

6. Iklim kebinekaan.

7. iklim kesetaraan gender.

9. inklusivitas satuan pendidikan.

9. Dukungan orangtua dan murid terhadap program satuan pendidikan.

Berikut penjelaskan dari masing-masing variabal soal Survei Lingkungan Belajar tersebut.

1. Latar belakang responden

Survei Lingkungan Belajar akan diikuti oleh peserta didik, pendidik (guru), dan kepala satuan pendidikan. Masing-masing kelompok responden akan diminta mengisi kuesioner yang menggali informasi tentang latar belakang mereka.

Selain mencakup variabel demografis seperti usia dan gender, kuesioner latar belakang juga berfungsi untuk memotret beberapa faktor penting yang menentukan kualitas proses dan hasil belajar.

Untuk peserta didik, informasi latar belakang diperlukan untuk menghasilkan indeks sosial-ekonomi murid. Indeks tersebut kemudian dapat diagregasikan di level satuan pendidikan untuk keperluan perbandingan antar satuan pendidikan.

Oleh karena itu, Survei Lingkungan Belajar mengikuti model PISA yang membangun indeks sosial ekonomi peserta didik berdasarkan pendidikan dan pekerjaan orang tua, fasilitas belajar di rumah, kepemilikan buku, dan kepemilikan barang tersier.

Variabel-variabel tersebut mencerminkan modal sosial, ekonomi, dan kultural yang, dalam kerangka teori Bourdieu, membuat murid dari keluarga lebih siap menjalankan peran sebagai murid di satuan pendidikan.

Untuk guru dan kepala satuan pendidikan, informasi latar belakang diperlukan untuk mendapatkan gambaran tidak langsung tentang kompetensi yang relevan.

Pertanyaan untuk guru dan kepala satuan pendidikan meliputi jenjang pendidikan tertinggi, jenis pendidikan baik untuk jenjang S-1 maupun pascasarjana (jika ada), mata kuliah yang diampu, pengalaman mengajar (untuk guru), pengalaman menjadi pemimpin satuan pendidikan (untuk kepala satuan pendidikan), sertifikat pendidik, sertifikat kepala satuan pendidikan, serta pengalaman pelatihan atau pengembangan profesional yang telah diikuti.

Contoh definisi variabel latar belakang guru dan kepala satuan pendidikan

a. Jenjang pendidikan tertinggi yang diselesaikan.Guru dan KS

b. Jurusan ketika S1 maupun jenjang yang lebih tinggi (jika ada)

c. Jenis dan frekuensi pelatihan, seminar, atau lokakarya pengembangan profesional.

d. Lama mengajar pada mata pelajaran tertentu.

e. Sertifikat pendidik, kepala satuan pendidikan, kompetensi kerja, dan/atau penggerak yang dimiliki guru atau kepala satuan pendidikan

f. Lama menjabat sebagai pemimpin satuan pendidikan sebagai wakil dan/atau kepala satuan pendidikan.

g. Area-area kompetensi yang paling butuh pengembangan (berdasar laporan diri).

h. Pendidikan formal dan non-formal di bidang pendidikan khusus

Untuk melengkapi potret tentang kompetensi, guru dan kepala satuan pendidikan juga diminta untuk mengidentifikasi area-area kompetensi yang dirasa paling perlu pengembangan lebih lanjut.

Selain itu, kuesioner latar belakang dalam Survei Lingkungan Belajar juga akan memuat beberapa pertanyaan yang berfokus pada proksi kompetensi guru terkait pendidikan untuk murid berkebutuhan khusus. Hal ini mencerminkan keinginan Kemendikbud untuk lebih memahami layanan untuk peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah/madrasah.

2. Kualitas Pembelajaran

Kualitas pembelajaran dipotret menggunakan model tiga dimensi dasar, yaitu manajemen kelas, dukungan afektif, dan aktivasi kognitif.

Untuk mengukurnya, masing-masing dimensi generik diterjemahkan ke dalam setidaknya dua variabel yang lebih spesifik. Semua variabel kualitas pembelajaran diperoleh dari perspektif murid dan guru.

Baca :

Kedua perspektif ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing sehingga bersifat komplementer. Pengisian kuesioner proses pembelajaran oleh guru juga memiliki efek samping positif berupa peningkatan kesadaran guru tentang praktik-praktik pembelajaran yang baik.

Untuk manajemen kelas, Survei Lingkungan Belajar mengukur keteraturan suasana kelas dan penerapan prinsip disiplin positif. Disiplin positif mencakup perumusan aturan kelas secara partisipatif (melibatkan murid) dan penerapan aturan itu menggunakan penguatan (reinforcement seperti pujian) terhadap perilaku yang diinginkan.

Keteraturan suasana kelas dapat dilihat sebagai indikator keberhasilan dari penerapan disiplin positif. Kelas dengan suasana yang teratur bukan kelas yang sunyi dan bebas dari suara peseta didik.

Kelas dengan suasana teratur adalah kelas yang bebas dari disrupsi sehingga murid dapat berfokus pada aktivitas belajar, apapun bentuk aktivitas tersebut (misalnya, mendengarkan guru, berdiskusi kelompok, atau mengerjakan tugas secara mandiri).

Contoh indikator pertanyaan variabel manajemen kelas, kategori kualitas pembelajaran, sebagai berikut.

a. Suasana kelas yang kondusif untuk proses belajar mengajar (tanpa disrupsi yang mengalihkan perhatian dari aktivitas belajar).

b. Penerapan prinsip disiplin positif (reinforcement atau pembentukan perilaku adaptif) dalam menegakkan aturan kelas yang telah disepakati bersama.

Dukungan afektif adalah praktik yang memfasilitasi terpenuhinya kebutuhan psikologis dasar murid terkait dengan rasa percaya diri, rasa otonom (berdaya), dan rasa menjadi bagian berharga dari komunitas kelas.

Di dalam Survei Lingkungan Belajar, kebutuhan psikologis peserta didik diasumsikan terfasilitasi melalui penyampaian ekspektasi akademik, perhatian dan kepedulian, serta umpan balik yang konstruktif.

Peserta didik menjadi percaya akan kemampuannya jika guru secara konsisten menyampaikan keyakinan bahwa semua peserta didik potensi untuk belajar dan berprestasi, asalkan mereka berusaha dan menerapkan strategi yang tepat.

Peserta didik akan merasa berharga jika guru memberi perhatian dan peduli pada kebutuhan belajar yang unik dari masing-masing peserta didik.

Peserta didik akan merasa berdaya jika mereka memperoleh umpan balik yang mengafirmasi apa yang mereka telah capai, serta menunjukkan cara untuk berkembang dan belajar lebih lanjut.

Contoh indikator pertanyaan variabel dukungan afektif, katagori kualitas pembelajaran adalah sebagai berikut.

a. Mengkomunikasikan pesan bahwa guru percaya akan kemampuan semua murid untuk belajar dan berprestasi secara akademik.

b. Pemberian perhatian dan bantuan ekstra oleh guru untuk murid sesuai dengan kebutuhan belajar tiap peserta didik.

c. Penyampaian hasil evaluasi guru terhadap hasil pekerjaan dan perilaku peserta didik dengan cara yang mendorong untuk terus meningkatkan kemampuannya.

Aktivasi kognitif adalah praktik pengajaran yang dirancang untuk membantu murid aktif memproses materi sehingga dapat membentuk pemahaman yang tepat dan mendalam.

Survei Lingkungan Belajar mencakup tiga praktik aktivasi kognitif, yaitu instruksi yang adaptif, panduan guru, dan aktivitas yang interaktif.

Instruksi yang adaptif berarti cara mengajar yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman atau kemampuan peserta didik.

Panduan guru merujuk pada penjelasan langsung (direct instruction) tentang materi pelajaran, serta pemberian contoh (modeling) tentang penerapan prosedur atau konsep pada problem tertentu.

Aktivitas interaktif merupakan aktivitas-aktivitas yang mendorong murid untuk berkolaborasi dan berkomunikasi dalam konteks pemaknaan terhadap materi pelajaran.

Contoh indikator Soal variabel-variabel aktivasi kognitif, kategori kualitas pembelajaran: aktivasi kognitif adalah sebagai berikut.

a. Praktik adaptasi pengajaran oleh guru sebagai respon atas umpan balik dan respon murid terhadap kebutuhan belajarnya.

b. Panduan guru Penjelasan guru yang terstruktur tentang materi pelajaran, serta pemberian contoh tentang cara menerapkannya.

c. Praktik pengajaran yang mendorong kolaborasi dan komunikasi antar murid dalam konteks memaknai dan memahami materi ajar.

Selain manajemen kelas, dukungan afektif, dan aktivasi kognitif, Survei Lingkungan Belajar juga memotret stimulasi literasi dan numerasi yang dilakukan oleh guru di lingkungan satuan pendidikan.

Programme for International Student Assessment (PISA) mendefinisikan literasi membaca sebagai kemampuan memahami, menggunakan, merefleksikan, dan melibatkan teks tertulis, untuk mencapai tujuan, mengembangkan pengetahuan dan potensial, serta berpartisipasi di dalam masyarakat.

Sementara itu, literasi matematika atau numerasi didefinisikan oleh PISA sebagai kapasitas seorang individu dalam memformulasikan, menerapkan, dan menginterpretasikan matematika di dalam berbagai konteks; termasuk melakukan penalaran dan menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan perangkat matematika untuk menggambarkan, menjelaskan, dan memprediksi sebuah fenomena.

Literasi dan numerasi merupakan kompetensi dasar yang perlu dimiliki oleh setiap individu. Keterampilan literasi dan numerasi amatlah penting dimiliki dalam menjalani hidup sehari-hari.

Berbagai riset menunjukkan bahwa individu dengan keterampilan literasi dan numerasi yang baik memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk memiliki pekerjaan, berpartisipasi dalam kegiatan bermasyarakat, serta memiliki kualitas kesehatan yang lebih baik.

Karenanya, keterampilan literasi dan numerasi merupakan keterampilan dasar yang perlu diasah dalam pendidikan. Melalui Survei Lingkungan Belajar, informasi mengenai sejauh mana guru terlibat dalam menstimulasi kompetensi literasi dan numerasi murid dapat diperoleh.

Berikut ini contoh untuk variabel pembelajaran literasi dan numerasi, kategori Kualitas Pembelajaran: Pembelajaran Literasi.

a. Praktik pengajaran yang mendorong keterampilan literasi murid.

b. Praktik pengajaran yang mendorong keterampilan numerasi murid.

Khusus untuk 2021, Survei Lingkungan Belajar akan mengukur beberapa variabel implementasi pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Survei ini mencakup penggunaan asesmen untuk mendiagnosis kondisi dan kebutuhan belajar murid, perencanaan dan model pembelajaran yang dilakukan untuk konteks PJJ, serta sumber daya dan dukungan dari satuan pendidikan dan pihak lain untuk PJJ.

Pengukuran ini didasarkan pada asumsi bahwa kualitas pembelajaran pada masa pandemi perlu dipotret dengan memperhitungkan disrupsi dan perubahan pola pembelajaran yang terjadi.

Berikut contoh variabel praktik pembelajaran jarak jauh, Kategori Kualitas pembelajaran:

a. Informasi yang dikumpulkan guru untuk membuat keputusan ketika merencanakan pembelajaran pada masa pandemi.

b. Model pembelajaran jarak jauh yang direncanakan dan diterapkan pada masa pandemi.

c. Sumber daya yang didapatkan guru dari satuan pendidikan, dinas pendidikan, dan pemerintah dalam melaksanakan PJJ serta sumber daya dan dukungan yang diperukan namun belum diterima atau belum tersedia.

3. Refleksi Guru dan Perbaikan Pembelajaran

Supaya pembelajaran menjadi berkualitas, guru perlu melakukan perbaikan secara berkelanjutan atas praktik pengajarannya.

Di dalam Survei Lingkungan Belajar, hal ini dipotret melalui tiga variabel yang menjadi karakteristik guru-guru yang inovatif.

Hal pertama adalah aktivitas belajar guru untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya sebagai pengajar. Di dalam hal ini, aktivitas yang dimaksud mencakup keikutsertaan dalam program-program pengembangan profesional yang terstruktur (seperti seminar dan lokakarya), serta aktivitas mandiri seperti belajar melalui buku dan interaksi informal dengan sesama guru.

Contoh pertanyaan terkait variabel refleksi guru dan perbaikan pembelajaran, kategori Refleksi guru dan perbaikan pembelajaran adalah sebagai berikut.

a. Aktivitas belajar yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengajar.

b. Aktivitas untuk mengevaluasi dan merefleksikan praktik pengajaran yang telah diterapkan, terutama dari sisi dampaknya terhadap belajar murid.

c. Penerapan cara, bahan, dan/atau pendekatan baru dalam praktik pengajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai evaluasi pembelajaran.

Variabel kedua adalah aktivitas yang bertujuan untuk merefleksikan secara kritis praktik pengajarannya sendiri.

Fokus refleksi adalah pada pertanyaan tentang efektivitas pembelajaran yang telah diterapkan untuk memfasilitasi proses belajar murid. Refleksi perlu didasarkan pada bukti-bukti yang relevan.

Hal ini dapat berupa bukti-bukti tentang hasil belajar murid (hasil tes dan karya yang dihasilkan). Bukti tersebut juga dapat berupa umpan balik dari murid serta guru lain. Aktivitas re fleksi menjadi kunci dalam proses perbaikan karena memicu kesadaran tentang perlunya perubahan.

Variabel ketiga adalah penggunaan cara atau pendekatan yang baru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran.

Hal ini dapat berupa aktivitas, tugas, model penilaian, atau metode penyampaian yang baru. Perubahan cara mengajar ini memerlukan keberanian dan persistensi, karena cara baru tidak selalu segera membuahkan hasil positif.

Persepsi tentang kegagalan dapat menurunkan motivasi guru untuk mengubah caranya mengajar, dan karena itu diperlukan lingkungan yang mendukung guru untuk mengambil risiko dalam melakukan inovasi pembelajaran.

Secara teoritis, ketiga variabel ini perlu terjadi secara simultan untuk bisa meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Guru yang aktif belajar mungkin akan mengalami peningkatan kompetensi, tetapi hal itu tidak akan berdampak pada peserta didik jika tidak disertai dengan re fleksi tentang praktiknya sendiri dan keberanian untuk mengubah praktik tersebut.

Sebaliknya, guru yang berani mencoba hal-hal baru dalam mengajar perlu mau melakukan refleksi untuk memonitor dampak dari inovasinya. Guru juga perlu belajar dari orang lain untuk bisa terus memperbaiki inovasi tersebut.

4. Kepemimpinan Instruksional Kepala Satuan Pendidikan

Kepala satuan pendidikan berpengaruh terhadap perumusan program dan kebijakan satuan pendidikan yang pada gilirannya akan mempengaruhi re fleksi guru serta kualitas pembelajaran.

Survei Lingkungan Belajar menggunakan konsep kepemimpinan instruksional untuk mengidentifikasi variabel-variabel terkait program dan kebijakan kepala satuan pendidikan yang diasumsikan mempengaruhi pembelajaran.

Contoh pertanyaan terkait variabel kepemimpinan instruksional, kategori Kepemimpinan instruksional adalah sebagai berikut.

a. Penyampaian dan penerapan visi-misi satuan pendidikan yang berpusat pada perbaikan pembelajaran.

b. Mengelola pengembangan kurikulum satuan pendidikan dengan berorientasi pada peningkatan hasil belajar murid.

c. Program, sistem insentif, dan sumberdaya yang mendukung re fleksi guru dan perbaikan pembelajaran.

Variabel pertama adalah orientasi pembelajaran yang terkandung dalam visi-misi satuan pendidikan, serta penyampaiannya kepada warga satuan pendidikan.

Kepala satuan pendidikan yang memiliki kepemimpinan instruksional kuat akan mampu menerjemahkan visi-misi ke dalam aktivitas, program, dan kebijakan lain.

Dengan demikian, visi-misi satuan pendidikan tidak hanya ditampilkan sebagai slogan yang tertempel di dinding satuan pendidikan.

Dengan kepemimpinan instruksional yang kuat, warga satuan pendidikan akan merasa bahwa visi-misi satuan pendidikan mewarnai aktivitas sehari-hari mereka.


SEARCH DISINI :

Related posts