Sebuah video wawancara pejabat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang membahas penanganan gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) telah menjadi perbincangan hangat di media sosial, memicu pertanyaan karena terlihat dilakukan dari sebuah kafe.
Video viral tersebut menuai beragam spekulasi di kalangan warganet, yang mempertanyakan keberadaan pejabat BNPB yang tampak memberikan keterangan dari sebuah rumah makan, bukan di lokasi bencana. Sebagaimana dilansir dari detik.com, rekaman tersebut memperlihatkan pejabat tersebut di salah satu sudut ruangan tempat makan sambil memberikan informasi terkait penanganan gempa di NTT, lantas memicu kritik dan pertanyaan mengenai keseriusan dalam menjalankan tugas.
Menanggapi hal tersebut, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan (Kapusdatin) BNPB, Berton SP Panjaitan, mengonfirmasi bahwa pejabat yang dimaksud dalam video viral itu adalah dirinya. Ia menjelaskan bahwa wawancara tersebut dilaksanakan pada Kamis (20/8) pekan lalu, sekitar pukul 20.00 WIB, di sebuah rumah makan yang lokasinya berdekatan dengan Bandara Labuan Bajo.
Berton menegaskan, pihaknya memahami persepsi yang muncul di media sosial, namun perlu meluruskan konteksnya. Menurutnya, pada saat wawancara daring itu dilakukan, ia sedang menjalankan tugas komunikasi publik, yaitu memberikan informasi terkini kepada salah satu televisi swasta nasional mengenai perkembangan penanganan gempa NTT. Kegiatan ini, tambahnya, dilakukan di luar jam kerja kantor dan merupakan bagian dari tanggung jawabnya.
Lebih lanjut, Berton menjelaskan bahwa lokasi rumah makan tempatnya melakukan wawancara hanya berjarak sekitar 10 langkah dari Bandara Labuan Bajo. Ia menekankan bahwa Labuan Bajo pada saat itu bukan sekadar tempat persinggahan, melainkan merupakan salah satu simpul penting operasi BNPB, termasuk dalam penerimaan dan distribusi logistik untuk wilayah Flores bagian barat. Oleh karena itu, keberadaan seseorang di Labuan Bajo tidak serta merta mengindikasikan ketidakhadiran dalam rangkaian operasi penanganan bencana.
Berton menambahkan, dalam situasi darurat bencana, pekerjaan personel BNPB tidak mengenal batasan jam kantor. Koordinasi, pemantauan data, pengambilan keputusan, hingga komunikasi publik, semuanya berlangsung secara berkelanjutan sepanjang waktu demi memastikan penanganan yang efektif. Ia juga menyebutkan bahwa BNPB telah membagi tugas tiap personelnya secara jelas dalam setiap penanganan darurat bencana.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya membedakan antara personel yang memiliki tugas langsung di lapangan dengan pejabat yang mengemban fungsi koordinasi dan komunikasi. Keduanya, menurut Berton, adalah bagian integral dari satu sistem penanganan bencana yang saling mendukung dan esensial.
Mengakhiri pernyataannya, Berton berharap masyarakat dapat lebih bijak dalam memilah dan menelaah informasi yang beredar, serta tidak mudah terbawa oleh potongan video tanpa konteks yang lengkap. Ia menekankan bahwa prioritas utama pada saat itu adalah menyampaikan informasi yang akurat dan esensial kepada publik mengenai penanganan gempa NTT, guna menghindari kesalahpahaman dan informasi keliru. (Sumber: https://news.detik.com/berita/d-8634106/diviralkan-wawancara-gempa-ntt-dari-kafe-pejabat-bnpb-ungkap-faktanya)







