KUNCI JAWABAN Kelas 5 TEMA 8 Halaman 7 8 9 10 11 12 13 14 Lingkungan Sahabat Kita Subtema 1 Buku Tematik Siswa SD

  • Whatsapp
KUNCI JAWABAN Kelas 5 TEMA 8 Halaman 7 8 9 10 11 12 13 14 Lingkungan Sahabat Kita Subtema 1 Buku Tematik Siswa SD
KUNCI JAWABAN Kelas 5 TEMA 8 Halaman 7 8 9 10 11 12 13 14 Lingkungan Sahabat Kita Subtema 1 Buku Tematik Siswa SD

Proses penguapan, pengendapan, dan pengembunan.
Air dari laut, sungai, dan danau menguap akibat panas dari sinar matahari. Penguapan ini disebut Evaporasi. Lama-kelamaan, udara tidak dapat menampung uap air (jenuh). Proses ini disebut Presipitasi (Pengendapan). Ketika suhu udara turun, uap air akan berubah menjadi titik-titik air. Titik-titik air ini membentuk awan. Proses ini disebut Kondensasi (pengembunan). Selanjutnya akan turun menjadi hujan. Air hujan selanjutnya tertampung di sungai, danau, dan laut. Air kembali menguap, sehingga proses tersebut kembali terulang. Jumlah air di Bumi secara keseluruhan cenderung tetap. Hanya wujud dan tempatnya yang berubah.

Ceritakan hasil pengamatan kelompokmu. Lakukan bergantian dengan kelompok lain.

Read More

>>> Halaman 9 – 10

Kamu telah melakukan pengamatan dan menceritakan gambar. Peristiwa yang terjadi pada gambar yang kamu amati itu disebut siklus air. Bacalah bacaan berikut untuk menambah pengetahuanmu.

***Ayo Membaca***

Siklus Air

Manusia selalu membutuhkan air dalam kehidupan sehari-hari. Kegunaan air antara lain untuk keperluan rumah tangga, pertanian, industri, dan untuk pembangkit listrik. Begitu besarnya kebutuhan manusia akan air. Kita bersyukur, air senantiasa tersedia di bumi. Oleh karena itu, manusia seharusnya senantiasa bersyukur kepada Tuhan pencipta alam.

Mengapa air selalu tersedia di bumi? Air selalu tersedia di bumi karena air mengalami siklus. Siklus air merupakan sirkulasi (perputaran) air secara terus menerus dari bumi ke atmosfer, lalu kembali ke bumi. Siklus air ini terjadi melalui proses penguapan, pengendapan, dan pengembunan. Perhatikan skema proses siklus air berikut ini!

Air di laut, sungai, dan danau menguap akibat panas dari sinar matahari. Proses penguapan ini disebut evaporasi. Tumbuhan juga mengeluarkan uap air ke udara. Uap air dari permukaan bumi naik dan berkumpul di udara.

Lama-kelamaan, udara tidak dapat lagi menampung uap air (jenuh). Proses ini disebut presipitasi (pengendapan). Ketika suhu udara turun, uap air akan berubah menjadi titik-titik air. Titik-titik air ini membentuk awan. Proses ini disebut kondensasi (pengembunan).

Titik-titik air di awan selanjutnya akan turun menjadi hujan. Air hujan akan turun di darat maupun di laut. Air hujan itu akan jatuh ke tanah atau perairan.

Air hujan yang jatuh di tanah akan meresap menjadi air tanah. Selanjutnya, air tanah akan keluar melalui sumur.

Air tanah juga akan merembes ke danau atau sungai. Air hujan yang jatuh ke perairan, misalnya sungai atau danau, akan menambah jumlah air di tempat tersebut. Selanjutnya air sungai akan mengalir ke laut. Namun, sebagian air di sungai dapat menguap kembali. Air sungai yang menguap membentuk awan bersama dengan uap dari air laut dan tumbuhan. Proses siklus air pun terulang lagi.

Dari proses siklus air itu dapat disimpulkan bahwa sebenarnya jumlah air di bumi secara keseluruhan cenderung tetap. Hanya wujud dan tempatnya yang berubah.

Sumber: IPA Salingtemas 5 untuk SD/MI Kelas V. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

***Ayo Mencoba***

Kamu telah membaca teks “Siklus air”. Bersama kelompokmu, gambarlah bagan sederhana karyamu sendiri untuk menjelaskan siklus air. Tambahkan kalimat-kalimat untuk menjelaskan proses siklus air. Presentasikan hasil diskusi kelompokmu di depan kelompok lain dan Bapak/Ibu Guru.

>>> Halaman 11 – 13

*** Ayo Membaca***

Air sangat diperlukan bagi kelangsungan hidup di bumi. Semua makhluk hidup membutuhkan air. Banyak cara dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akan air. Bacalah cerita tentang air berikut.

Semut dan Beruang

Pada suatu hari, Beri si Beruang melihat ke dalam mata air. Beri mengeluh, “Sepertinya air di mata air ini semakin sedikit saja. Pasti bangsa semut terlalu banyak mengambil air!” Beri lalu menundukkan kepala, melihat ke tanah dengan teliti. Ah, ia melihat seekor semut hitam berjalan membawa guci mungil di pundak.

“Berhenti, semut!” teriaknya. “Aku tak akan membiarkanmu mengambil air di sumber airku lagi. Kamu sudah terlalu banyak mengambil air. Berhenti atau kucakar kau!” ancam Beri Beruang.

Semut hitam kecil itu tidak memperhatikan teriakan Beri. Ia merangkak ke bawah beberapa helai daun kering. Ia terus berjalan menuju sumber mata air.

Beri mencakar dan mengendus daun-daun sambil berteriak, “Tak ada gunanya sembunyi! Aku bisa menemukanmu!”

Semut hitam berteriak dari arah belakang Beri, “Kenapa kamu pelit sekali? Bayi-bayi semut di lembah semut sangat kehausan. Air di mata air ini kan masih banyak sekali. Bahkan masih cukup untuk seribu rusa.”

“Dengar kataku!” geram Beri sambil membalik tubuhnya. “Aku tak akan memberikanmu air lagi. Semua semut dilarang mengambil air di sini lagi!”

Semut Hitam terdiam sebentar. Lalu katanya, “Apa boleh buat, kalau kau sudah memutuskan begitu! Tapi aku tetap akan mengambil air untuk bayi-bayi semut di lembah!”

Beri beruang sangat marah. Namun, Semut Hitam sudah menghilang lagi ke bawah daun-daun kering. Beri mencarinya, tetapi ia tidak melihat apa-apa di rumput. Akhirnya ia kembali dengan jengkel ke sarangnya di dekat pohon oak.

Semut-semut yang haus menunggu di lembah semut. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya mereka berbaris menuju mata air. Salah satu semut melihat guci air milik Semut Hitam yang tergeletak di jalan.

“Pasti Semut Hitam mendapat masalah. Lihatlah! Ini gucinya, tapi dia tidak tampak!” Mereka memungut guci itu dan terus berjalan.

Saat itu seekor kelinci mengintip dari balik semak. Kelinci itu mengangkat telinganya dan berbisik, “Jangan pergi ke mata air itu. Pulanglah, kalian dalam bahaya. Beri sedang marah. Ia bilang, air di mata airnya berkurang. Ia akan mencakar semut-semut yang berani mengambil air dari mata airnya!”

Akan tetapi semut-semut itu tidak takut. “Mana beruang itu sekarang?” tanya mereka.

“Ia sedang di rumahnya beristirahat,” jawab Kelinci. Semut-semut itu berbaris seperti tali sepatu di rumput. Mereka melihat seekor tupai duduk di pohon dan bertanya, “Apa kami sedang berjalan tepat ke arah sarang beruang?”

“Ya, ya, ini memang jalan ke arah sarangnya,” jawab Tupai. “Tapi sebaiknya kalian balik ke rumah. Beri beruang dari tadi berteriak terus. Katanya, kalau kalian mengambil air dari mata airnya, ia akan mencakar kalian.”

Akan tetapi semut-semut itu tak mau kembali. Mereka terus berbaris seperti tali sepatu di tanah. Hari hampir malam ketika mereka tiba di depan pohon oak tua. Mereka melihat sekeliling, dan menemukan sebuah retakan di tanah. Mereka masuk ke dalamnya, dan mulai menggali sebuah lubang.

“Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian menggali?” tanya Tikus Tanah yang merasa terganggu dari tidurnya. “Kami ingin menangkap Beri beruang.

Kami sedang membuat jebakan untuknya,” kata para semut. “Bahaya sekali!” seru Tikus Tanah. “Dia pasti sudah menangkap Semut Hitam saudara kami. Ia juga berniat mencakar kami, hanya karena kami mengambil air dari mata air!” kata semutsemut.

“Aku akan menolong kalian menggali di bawah sarangnya. Aku pernah hampir tertangkap dia dahulu.”

Seharian itu, para semut dan Tikus Tanah menggali lubang di bawah sarang Beri. Mereka terus menggali selama sepuluh hari. Beri beruang sama sekali tidak curiga.

Suatu malam di hari kesepuluh, Beri beruang kembali ke sarangnya dengan hati gembira. Ia berhenti di depan rumahnya di pohon oak dan berkata pada dirinya,

“Aku sudah makan dan minum sampai kenyang. Satu-satunya yang bikin aku jengkel adalah semut-semut itu. Mereka masih berani mengambil air dari mata airku! Besok akan aku hancurkan lembah semut itu! Akan kucakar mereka dengan cakarku seperti ini…” Beri beruang mulai mencakar ke segala arah. Ia menghentakkan kakinya ke lantai sarangnya dan… BRRUUKK…

Lantai sarangnya jebol. Beri beruang jatuh ke lubang di bawah sarangnya. Lubang itulah yang telah digali para semut dan Tikus Tanah. Beri Beruang harus terus tinggal di lubang itu, kecuali ada penjaga hutan yang menemukannya.

Semut-semut itu akhirnya hidup damai di lembah semut. Saat itu Semut Hitam saudara mereka juga sudah kembali ke rumah. Ternyata ia hanya terpeleset di jalan. Jadi tidak ada yang merusak kebahagiaan mereka sekarang. Para semut dengan bebas pergi mencari makan dan minum di hutan.

(Sumber: bobo.kidnesia.com)

Jelaskan peristiwa pada cerita “Semut dan Beruang” dengan bahasamu sendiri. Tulislah dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Perhatikan penggunaan kata-kata baku. Perhatikan pula penggunaan tanda baca yang benar. Tulislah dalam kotak berikut, lalu bacalah di depan teman-teman dan Bapak/Ibu Guru.

Jawaban:

Suatu hari, Beri si Beruang mengeluh karena mata air terlihat semakin sedikit. Beri si Beruang melihat seekor semut hitam berjalan membawa guci untuk mengambil air di mata air tersebut. Beri mengancam Semut, namun Semut hitam kecil itu tidak memperhatikan ancaman Beri. Beri beruang marah dan mencari Semut, namun tidak ketemu. Akhirnya dengan jengkel Beri kembali ke sarangnya di dekat pohon oak.

Semut-semut yang menunggu di lembah Semut gelisah karena kehausan. Akhirnya semut-semut yang haus berbaris menuju mata air. Salah satu semut melihat guci air milik Semut Hitam yang tergeletak di jalan. Mereka berpikir Semut Hitam telah mendapat masalah.

Seekor kelinci mencoba melarang semut agar tidak pergi ke mata air tersebut. Akan tetapi semut-semut itu tidak takut dan akan pergi menuju sarang Beruang. Di tengah jalan seekor Tupai mengingatkan Semut agar tidak ke rumah Beruang yang sedang marah. Semut-semut tersebut tidak peduli dan menuju sarang Beruang. Sampai di depan pohon oak tua tempat sarang Beruang, mereka menggali sebuah lubang. Seekor tikus tanah yang juga pernah diancam Beruang membantu Semut menggali jebakan. 

Beri beruang kembali ke sarangnya dalam keadaan kenyang. Saat Beri teringat ulah semut hitam, ia kembali marah dan mencakar ke segala arah. Ia menghentakkan kakinya ke lantai sarangnya dan terjatuh karena lantai sarangnya jebol karena sudah dibuat rapuh oleh para semut. Akhirnya Beri si beruang jatuh ke dalam lubang di bawah sarangnya.

Semut-semut itu akhirnya hidup damai di lembah semut. Semut Hitam saudara mereka juga sudah kembali ke rumah. Ternyata ia hanya terpeleset di jalan. Para semut akhirnya bebas pergi mencari makan dan minum di hutan.

>>> Halaman 14

***Ayo Renungkan ***

Apa yang telah kamu pelajari hari ini?

Hari ini saya belajar tentang:

Jawaban:

Jawab Sesuai Pemahaman masing-masing terhadap materi yang telah kamu pelajari hari ini.

***Kegiatan bersama orang tua***

Bersama orang tuamu, jelaskan fungsi air bagi anggota keluargamu. Fungsi air bagi anggota keluargaku:

Kegunaan air terhadap seluruh anggota keluarga adalah:

1.   Keperluan rumah tangga sebagaimana contohnya adalah untuk mengajak minum, masak, mandi, cuci dan berbagai macam bentuk pekerjaan lainnya.

2.   Keperluan umum yang dimana contohnya untuk membersihkan jalan hingga pasar, pengangkutan daripada air limbah, hingga hiasan dari rumah.

3.   Keperluan dagangan seperti yang dimana apabila anggota keluarga kita membuat jasa usaha laundry, pertanian, hingga peternakan.

Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul KUNCI JAWABAN Tema 8 Kelas 5 Halaman 7 8 9 10 11 12 13 14 Tematik Subtema 1 Lingkungan Sahabat Kita, https://pontianak.tribunnews.com/2021/03/01/kunci-jawaban-tema-8-kelas-5-halaman-7-8-9-10-11-12-13-14-tematik-subtema-1-lingkungan-sahabat-kita?page=all.
Penulis: Dhita Mutiasari
Editor: Dhita Mutiasari

  • Whatsapp

Related posts