HUT Ke-187 GPIB Immanuel: Bima Arya Dorong Wariskan Iman dan Pelayanan

Sumber Gambar: https://news.detik.com/berita/d-8635238/hut-ke-187-gpib-immanuel-bima-arya-dorong-wariskan-iman-dan-pelayanan

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto, menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-187 Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Bima Arya mendorong jemaat dan pengurus untuk terus mewariskan nilai-nilai keimanan, ketulusan, kesetiaan, serta pelayanan kepada sesama, menekankan bahwa usia gereja bukan hanya tentang ketahanan bangunan, melainkan keberlanjutan ajaran dan karya yang bermanfaat lintas generasi.

Kehadiran Bima Arya pada perayaan HUT ke-187 GPIB Immanuel Jakarta, Selasa (25/8), menyoroti perjalanan panjang gereja yang telah menembus generasi, sebagaimana dilansir dari detik.com. Ia menyatakan bahwa 187 tahun keberadaan GPIB Immanuel adalah bukti nyata dari warisan nilai dan ajaran yang tak lekang oleh waktu, membentuk karakter dan spiritualitas jemaat hingga saat ini.

Read More

Menurut Bima, setiap elemen dari gereja tersebut memiliki makna filosofis yang dapat menjadi pembelajaran berharga bagi kehidupan. Ia menegaskan bahwa GPIB Immanuel telah menjadi wadah ajaran keimanan yang diwariskan secara turun-temurun, menyatukan seluruh jemaat dalam satu tujuan.

Bima Arya secara khusus menyoroti filosofi bunga teratai yang terpahat pada kubah GPIB Immanuel. Ia menjelaskan bahwa teratai, meskipun tumbuh di lingkungan berlumpur, tetap mampu memancarkan keindahan dan kebersihan. Filosofi ini, lanjut Bima, menjadi relevan untuk menggambarkan bagaimana manusia harus senantiasa menghadirkan kebaikan di tengah berbagai tantangan dan dinamika kehidupan modern.

Lebih lanjut, Bima mengaitkan filosofi teratai dengan pentingnya meninggalkan karya yang bermanfaat bagi generasi mendatang. Ia menekankan bahwa meskipun kehidupan manusia bersifat fana dan sementara, pengabdian dan karya yang dilakukan dengan tulus akan memiliki dampak yang abadi. “Artinya apa? Itulah manusia. Hidup kita fana, hidup kita sementara, tetapi karya kita, bakti kita abadi dan selamanya,” ujarnya.

Selain nilai ketulusan, Bima juga melihat nilai kesetiaan terpancar dari keberadaan orgel bersejarah di GPIB Immanuel yang hingga kini masih berfungsi dengan baik. Ia mengapresiasi kepedulian pengurus dan jemaat dalam merawat warisan berharga yang telah menemani perjalanan gereja selama lebih dari 180 tahun tersebut.

Keterpaduan antara orgel dan sistem akustik bangunan gereja juga disebut Bima sebagai gambaran harmoni yang telah terbangun antara gereja dan lingkungan sekitarnya. Ia berharap semangat integrasi dan harmoni ini dapat terus dipertahankan dalam menghadapi perubahan zaman. “Ini adalah harmoni, ini adalah nilai yang luhur dari gereja ini. Tentu ini sekali lagi adalah simbol bagaimana gereja ini selama 180 tahun menyatu dengan lingkungan dengan kota Jakarta membangun harmoni dan terintegrasi,” katanya.

Memasuki era perkembangan teknologi yang pesat, termasuk Artificial Intelligence (AI), Bima mengingatkan pentingnya memastikan kemajuan tersebut selaras dengan nilai-nilai kebijaksanaan dan kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa teknologi harus diarahkan untuk memperkuat kemaslahatan manusia, bukan justru mengikis nilai-nilai moral dan keimanan.

Dalam konteks ini, Bima mengapresiasi kehadiran generasi muda dalam perayaan HUT GPIB Immanuel. Kehadiran mereka dinilai krusial untuk memastikan nilai-nilai keimanan dan moral tetap diwariskan kepada generasi mendatang, terutama ketika mereka semakin akrab dengan berbagai kemajuan teknologi.

Pada kesempatan yang sama, Bima juga menyampaikan komitmen Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dalam mendorong pemerintah daerah (Pemda) untuk menghadirkan pembangunan yang inklusif. Pemda, katanya, harus memastikan setiap kota dibangun untuk seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang. “Kementerian Dalam Negeri hari ini terus memastikan bahwa seluruh gubernur, seluruh wali kota, dan seluruh bupati di Indonesia dalam kesehariannya tidak pernah meninggalkan warganya. Memastikan bahwa kotanya dibangun untuk semua,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pemerintah juga berkewajiban menjamin masyarakat dapat menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinannya masing-masing. Hal ini menjadi bagian integral dari upaya menjaga persatuan dan kehidupan sosial yang harmonis di tengah keberagaman Indonesia yang kaya.

Bima berharap perjalanan panjang GPIB Immanuel tidak hanya berhenti pada upaya menjaga bangunan sebagai warisan sejarah semata. Lebih dari itu, ia mendorong agar gereja terus menjadi ruang tumbuhnya iman yang hidup, pelayanan yang semakin berdampak, dan kasih yang menjadi berkat bagi sesama. “Bukan hanya bangunan yang terpelihara Bapak-Ibu, tetapi mari kita yakini iman yang terus hidup, pelayanan yang semakin berdampak, dan kasih yang menjadi berkat bagi sesama adalah menjadi ciri khas dari gereja Immanuel di Jakarta ini,” pungkasnya.

(Sumber: https://news.detik.com/berita/d-8635238/hut-ke-187-gpib-immanuel-bima-arya-dorong-wariskan-iman-dan-pelayanan)

Related posts